Bermula dari Tukang Kayu

oleh -7 Dilihat

Oleh: Yudi Latif, Pemikir Kebangsaan dan Kenegaraan

Saudaraku, Indonesia ini negeri kayu. Rumah-rumah dulu bersandar pada reng dan kaso; tiang, kursi sidang, hingga palu hakim lahir dari batang hutan. Kayu bukan sekadar benda, tapi bahasa kehidupan.

Namun, antara perlindungan dan ancaman, batasnya tipis. Di tangan tukang kayu yang arif, negeri tertata. Tapi, jika tukang kayu “main kayu”, tangan yang mestinya menyokong jadi mengacaukan.

Menata bangsa pun mesti dimulai dari hikmah kayu—tersirat dalam peribahasa, tersimpan dalam filosofi yang pelan-pelan terlupakan.

“Adakah kayu di rimba sama tinggi?” Tidak. Rimba mencerminkan masyarakat: ada yang cendekia, ada yang tersisih; yang kaya menjulang, yang papa merunduk. Maka, adil-lah dalam menakar.

Baca Juga  Bodewin Tegaskan Fabrikasi Sopi Masih Sebatas Gagasan, Belum Jadi Kebijakan

“Bagai siamang kurang kayu.” Kekurangan bukan sekadar perut kosong, tapi kehilangan pegangan harapan.

“Berkurai hendak memanjat kayu.” Tak semua pucuk bisa dicapai tanpa tangga. Mimpi pun perlu pijakan.

“Besar kayu, besar bahannya.” Gaji besar kerap disertai pengeluaran tinggi. Tanpa bijak, keberlimpahan jadi beban.

“Di mana kayu bengkok, di sanalah musang meniti.” Aturan yang bengkok membuka jalan bagi penyamun. Negeri sering runtuh bukan oleh badai, tapi oleh celah yang dibiarkan.

No More Posts Available.

No more pages to load.