“Menurut saya, aksi ini masih dapat dipahami karena mahasiswa membawa tuntutan yang berorientasi pada perbaikan keadaan, seperti penurunan harga BBM, evaluasi program makan bergizi gratis, dan berbagai isu kesejahteraan lainnya,” katanya.
Ia menilai tuntutan tersebut merupakan bentuk kritik terhadap kebijakan publik yang dianggap belum sepenuhnya menjawab kebutuhan rakyat.
Hendri juga mendorong pemerintah untuk tidak menutup diri terhadap aspirasi yang disampaikan mahasiswa. Ia menekankan pentingnya membuka ruang dialog sebagai jalan tengah dalam merespons gelombang protes yang berkembang.
“Pemerintah seharusnya menghargai aspirasi tersebut dengan membuka ruang dialog dan mengedepankan musyawarah untuk mencari solusi bersama,” ujarnya.
Pemerintah Diminta Respons dengan Langkah Konkret
Lebih lanjut, Hendri menegaskan bahwa gelombang aksi mahasiswa tidak semestinya dipandang semata sebagai kritik, melainkan sebagai sinyal adanya kegelisahan di tengah masyarakat.
“Mestinya pemerintah mendengarkan kegelisahan ini dan mengabulkannya dengan perbaikan kebijakan. Mahasiswa menyuarakan keresahan yang juga dirasakan sebagian masyarakat,” tegasnya.
Ia menambahkan, respons yang dibutuhkan bukan sekadar penjelasan, tetapi langkah nyata yang mampu menjawab persoalan yang dihadapi masyarakat.









