Padahal, Nany menegaskan, jurnalis bukan sumber masalah.
“Jurnalis adalah orang yang mencoba memperlihatkan masalah. Kalau jurnalis terbakar, sebenarnya yang terbakar adalah hak publik untuk tahu,” ujarnya.
Tekanan terhadap pers, lanjut Nany, juga tidak dapat dipisahkan dari persoalan kesejahteraan jurnalis.
AJI mencatat 549 jurnalis mengalami PHK sepanjang 2025, meningkat tajam dibandingkan 373 orang pada 2024. AJI bahkan memperkirakan jumlah jurnalis yang kehilangan pekerjaan akan kembali meningkat pada 2026.
Ketika perusahaan media melemah, jurnalis menjadi semakin rentan. Mereka dituntut menghasilkan lebih banyak berita dalam waktu lebih singkat, mengejar trafik, mengikuti algoritma dan menciptakan konten yang viral.
Situasi tersebut dinilai dapat membuat independensi editorial semakin mudah terdesak.
“Karena itu kita tidak boleh memisahkan kebebasan pers dari kesejahteraan jurnalis. Jurnalis yang tidak aman secara ekonomi akan lebih mudah ditekan,” kata Nany.
AJI Lawan Swasensor dan Labelisasi Jurnalis
Menurut Nany, jurnalis yang tidak memiliki kepastian kerja juga akan lebih sulit menolak intervensi. Begitu pula perusahaan media yang terus-menerus bergantung pada kepentingan politik maupun bisnis akan semakin sulit menjaga jarak kritisnya.









