Dirinya memaparkan, kasus kekerasan perempuan dan anak di Kepulauan Sula rata- rata didominasi oleh kasus KDRT, seksual serta penelantaran anak. Ada yang kontak fisik, ada yang seksual serta perantara.
Farida Maloko menjelaskan, di Kabupaten Kepulauan Sula angka kekerasan terhadap perempuan dan anak terbilang cukup tinggi jika bandingkan dengan 10 Kabupaten atau kota di Provinsi Maluku Utara.
“Kami berharap, mudah-mudahan di tahun 2023 ini jumlah kekerasan baik fisik maupun seksual bisa menurun dibandingkan tahun 2022,” tukasnya.
“Kemarin sempat kami mengikuti kegiatan pelatihan aplikasi simfoni itu trend yang kami lihat dari semua Kabupaten/kota di Maluku Utara, Kabupaten Kepulauan Sula yang paling tinggi,” demikian Siti. (Jamil Gaus)
Simak berita dan artikel porostimur.com lainnya di Google News









