Yang lebih berbahaya dari sekadar salah angka atau salah sebut, adalah terjadi halusinasi kekuasaan, inflasi informasi positif. Semua proyek dibayangkan berhasil, MBG membuat rakyat sehat (bukan keracunan), belanja di kios KMP menyediakan barang murah. Sekolah rakyat melahirkan anak-anak genius, Danantara membuat Indonesia jadi kaya raya. Pendirian batalyon baru TNI membuat negara aman tenteram. Semua program dianggap tepat sasaran, semua aparat bekerja keras. Semua target tercapai.
Dalam psikologi kekuasaan ada fenomena arogansi dan “over-self-confidence”. Semakin tinggi posisi seseorang, semakin jarang ia bertanya. Karena ia merasa serba tahu, dan lebih suka memberi tahu. Di saat yang sama, tidak ada bawahan yang berani mengatakan bahwa ia keliru. Siapa berani mengatakan: “Pak Presiden, angka itu tidak masuk akal; penjelasan tidak logis; pernyataan tidak nalar.” Jika mekanisme koreksi atau self-koreksi tidak ada di kekuasaan, maka presiden mengalami “isolasi epistemik”. Kekuasaan yang minim informasi faktual. Bukan karena bawahannya bodoh, terapi justru terlalu “pintar” membaca maunya kekuasaan. Mereka tahu, menjilat kekuasaan lebih aman ketimbang menyampaikan fakta kabar buruk yang bisa membuat karir cilaka.









