Pemimpin yang selalu merasa benar akan membangun sistem yang mustahil memberitahu bahwa ia salah. Ia akan terperosok dalam lingkaran kesalahan. Sebaliknya, pemimpin yang berkata, “saya salah,” justru sedang menunjukkan kekuatan. Di negara demokrasi, permintaan maaf seorang presiden bukan kelemahan. Itu adalah bentuk akuntabilitas epistemik: pengakuan bahwa pengetahuan tidak pernah sempurna. dan kekuasaan harus dapat dikoreksi. Yang mengkhawatirkan bukan seorang presiden yang sering keliru bicara, tapi presiden yang tidak mau tahu, ada yang keliru.
Dalam kultur ABS, presiden perlu memiliki refleks instingtif untuk meragukan laporan pembantunya. Dengan mempertanyakan. Karena mereka para penjilat pencari selamat, sekaligus penjerumus kekuasaan. Presiden yang kuat bukan yang suka bicara atau pidato apa saja, demi mendapat tepuk tangan atau koor tertawa.
Fakta keberhasilan itu sederhana, dan kerap dimulai dengan mempertanyakan. Pertanyaan yang penting adalah mengapa presiden mudah percaya pada angka-angka yang dikarang bawahannya. Mengapa tidak ada mekanisme internal untuk mengoreksi kejanggalan. Dan ketika kesalahan terlanjur dipidatokan, kenapa tidak ada permintaan maaf. Apakah ini cermin kekuasaan yang tidak menuntut akuntabilitas ke bawah dan tanggungjawab ke atas?









