Kepsek SMAN 12 Tidore Kepulauan Diduga Lecehkan 9 Siswinya

oleh -2,431 views

Porostimur.com, Tidore – Kepala Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 12 Gita, Kota Tidore Kepulauan diadukan ke Polsek Payahe lantaran diduga melecehkan sembilan orang siswi di sekolah tersebut.

Kepala Sekolah bejat bennama Harjul Yunus itu, dilaporkan ke Polsek Payahe oleh sembilan orang siswa perempuan berinisial, NZL, HK, AD, NIM, JB, PS, NI, SR, dan MH.

Para korban yang sebagian besar berada di bangku kelas 2 dan di SMA Negeri 12 Gita, Kota Tidore Kepulauan ini, mengaku kasus ini sebenarnya sudah lama namun sengaja didiamkan.

“Ada yang lapor kepada orang tua siswi, namun kata ibunya, sekolah saja, akan tetapi mereka sangat terganggu dengan kelakuan Kepsek,” ucap warga Payahe bernama Ivan saat dikonfirmasi via WhatsApp, Sabtu (22/9/2023).

Informasi yang didapatkan, kata Ivan, cara tegur Kepsek kepada mereka harus memegang tangan, bahu, dan pinggang. Tak hanya itu, dia pun mengeluarkan pernyataan bahwa,” kalau ngoni (kalian) mau lapor, ngoni (kalian) sanggup kase (kasi) keluar uang kalao-kadara (Gita-Tidore).

Ivan bilang, para korban mengaku takut pergi ke sekolah, lantaran tindakan sang kepsek, sudah berulang-ulang. Akhirnya mereka memberanikan diri untuk melaporkan perbuatan tak elok sang kepala sekolah ke Polsek setempat.

Hal yang sama diakui salah satu kakak korban bernama Erni. Menurut Erni, berdasarkan cerita dari adiknya, mereka sering mendapat perlakuan tak wajar dari sang Kepsek mesum itu.

“Dari sembilan orang itu, ada dapat raba paha-paha, bagian leher, pantat, serta saat bersalaman. Bahkan ada juga mereka yang diperiksa handphonenya dengan alasan untuk mengetahui aktivitas siswi tersebut,” akui Erni.

Baca Juga  Gempa M 6,0 Guncang Kepulauan Tanimbar, Berpusat di Laut

Erni bercerita, sebelumnya salah satu dari teman sembilan orang itu, telah dipanggil ke ruang Kepsek karena sebagai penerima beasiswa. Saat dipanggil, siswi tersebut ditemani dua temannya, namun kedua temannya itu disuruh keluar oleh kepala sekolah.

Di dalam ruangan sang Kepsek meminta handphone siswi agar dikeluarkan dari tasnya, serta mendesak agar kodenya dibuka karena menyimpan foto cocoknya di dalam galeri handphone.

“Saat itu, pak Kepsek tanya kepada siswi dan bilang, masih pacaran deng dia ini (cowoknya). Kemudian, siswi itu menjawab, bahwa masih pacaran. Lanjut Kepsek dengan mengatakan, jangan pacaran, karena laki-laki dong (kalian) hanya mau yang begitu-begitu.

Erni bilang, siswi tersebut merasa takut, karena sampai usai jam sekolah, dia masih ditahan oleh Kepsek di dalam ruangannya dan si kepala sekolah kembali meraba tangan dari siswi tersebut.

Kesembilan korban mengaku sang kepsek mensum beralasan bahwa perlakuannya kepada siswi-siswi itu, hanya ingin tes keimanan, “saya hanya tes ngoni (kalian-siswi) punya iman,” begitu cerita Erni.

Tak tahan dengan perlakuan sang kepala sekolah, kesembilan siswi itu pun akhirnya melaporkan ulah kepsek ke Polsek Payahe pada 19 September 2023.

“Para korban baru melapor ke Polsek pada 19 September. Pengaduan itu diterima pada 20 September 2023 dengan melibatkan pemerintah desa, bersama salah satu orang tua korban,” jelas Erni.

Baca Juga  Tekuk Wolves, The Gunners Kukuh di Puncak Klasemen

“Waktu lapor kejadian itu, pada malam hari mereka bertemu dengan Kepsek untuk mempertanyakan, kenapa harus pegang-pegang torang (kami-siswi-). Sementara jawab Kepsek, itu adalah bentuk dari sosialisasi dirinya kepada siswi, karena dia anggap mereka sebagai anaknya,” sambungnya.

Erni menjelaskan sebenarnya beberapa orang tua tahu kejadian yang dialami oleh kesembilan siswi tersebut, namun memilih diam. Sedangkan sebagian orang tua tidak tahu, karena anak-anak tersebut takut untuk melaporkan ke orang tuanya masing-masing.

“Keponakan saya menangis. Langsung saya tanya, kenapa menangis, lalu teman-temannya menyampaikan, torang (kita) cerita pun sudah rasa takut dan tidak lagi nyaman. Sebab kasusnya sudah dilapor ke Polsek, dan torang (kita) serba salah dan harus bagaimana,” tutur Erni.

Mendengar cerita itu, kata Erni, dia langsung mengatakan, diam saja, karena masalah ini ngoni (mereka) sudah lapor ke Polsek dan sebagian orang tuanya sudah mengetahui. Dan pada Kamis kemarin, kepsek dana orang tua siswi telah dipanggil oleh Polsek.

“Jadi pertemuan itu, mereka hanya menuntut agar Kepsek itu harus dikeluarkan dari sekolah. Jadi tindak lanjutnya harus dikembalikan kepada orang tua. Bahkan kemarin dari UPTD P3A juga sudah turun, dan mereka akan siap membantu dan siap membawa kasus ini ranah hukum paling tinggi,” terangnya.

Erni menambahkan, saat pertemuan di Polsek, para orang tua korban mendesak agar Kepsek dipecat dari jabatannya di sekolah tersebut. Sangat Kepsek pun bersedia dan siap keluar dari sekolah.

Baca Juga  Mantan Pangdam XVI/Pattimura Doni Monardo Meninggal Dunia

Terpisah, Kanit Reskim Polsek Payahe Bripka. Kisno Wahap membenarkan, bahwa ada siswi yang datang di Polsek Payahe untuk melaporkan kasus pelecehan dari Kepsek.

“Terkait kasus pelecehan seksual atau apa, kami belum bisa pastikan. Jadi hasil wawancara terhadap anak-anak yang melapor dan menjelaskan, Kepsek pegang-pegang dorang punya belakang,” katanya.

Kisno bilang, apabila mereka ingin kasus tersebut diproses, maka harus dibuat laporan polisi agar pihaknya dapat melakukan penyelidikan.

Menurut dia, pada 21 September 2023 kemarin, pihaknya telah mempertemukan kepala sekolah dengan orangtua siswa. Polisi menurut dia juga telah meminta para orang tua agar membuat laporan penyelesaian saja.

Kisno menjelaskan, pihak sekolah dengan orang tua siswa telah melakukan pertemuan yang dimediasi oleh Polsek, dan para orang tua mendesak agar kepala sekolah dipindahkan.

“Itu tidak menjadi masalah, tergantung ngoni (kalian). Torang (kami) tidak bisa paksa ngoni (kalian),” ujarnya.

Kisno menambahkan, terkait permintaan agar Kepsek dipindahkan, bukan ranahnya polisi. Namun komite sekolah dan para guru lainnya telah menyiapkan tuntutan dari orang tua korban.

“Kalau tidak salah, sore nanti atau besok mereka akan buat pernyataan. Dan kalau mau proses, harus buat laporan agar bisa ditindaklanjuti. Sampai sekarang toang (kami) belum terima dia punya laporan polisi,” ujarnya. (Mansyur Armain)

Simak berita dan artikel porostimur.com lainnya di Google News

No More Posts Available.

No more pages to load.