Ketika Cinta Bisa Kau Beli Dengan Murah di Teluk Ambon

oleh -144 views
Link Banner

[carousel_slide id=’12211′]

Porostimur.com | Ambon: Dari terminal Mardika, setelah jembatan, sekitar 150 meter sebelum kantor Koramil, Kecamatan Sirimau.

Tepatnya di Pantai Losari. Dari sejumlah warung yang berdiri pada sepanjang pantai, terdapat dua buah warung remang-remang saling bersebelahan jalan.

Dua buah warung itu berdiri di atas trotoar jalan. Sekilas, ke-duanya nampak sama seperti sejumlah warung makan lain. Bedanya, warung itu terlihat gelap.

Link Banner

“Itu bukan warung makan Nyong, itu tempat karaoke” ucap seorang tukang becak paru baya sembari menunjuk ke arah warung itu, Senin malam, pukul 22.15 WIT, (12/08).

Warung remang-remang yang menyediakan menu minuman kopi dan makanan ringan tersebut merupakan tenda, alias tidak permanen, serta diduga tidak memiliki Izin Mendirikan Bangunan (IMB) dan Izin Gangguan atau IG.

Irama lagu dangdut disela tingkah tawa, gadis penjaja minuman menyeruak. Di dalam sebuah warung beratap terpal, seorang wanita bepakaian mini bersama beberapa lelaki bernyanyi riang. Beberapa pasangan lainnya, duduk bercengkarama mesra mengitari sebuah meja.

Pencahayaan dalam tenda itu, hanya berupa sinar dari layar televisi dan bara api pada ujung rokok pengunjung pun pelayan yang menemani.

Baca Juga  Kunker ke Malut, Pangdam Pattimura Kagumi Pesona Kesultanan Tidore

Begitulah suasana di Pantai Losari, Kota Ambon di malam hari yang dipenuhi karaoke tenda saban malam.

Seorang warga yang enggan menyebut nama mengatakan gerai tersebut beraktivitas jelang malam dan berlangsung hingga menjelang pagi.

Menurutnya, aktivitas di dalam gerai itu berupa karaokean dan melayani berbagai jenis minuman.

Ditanya soal minuman jenis apa saja yang disajikan dan apakah ada praktek lainnya? Dia mengaku tidak tahu. Namun, kata dia, kuat dugaan ada kegiatan jual beli dan konsumsi miras di dalam.

Masih di kawasan yang sama, tak jauh dari kedua warung tadi, di antara jejeran tenda karaoke, sejumlah wanita terlihat sedang duduk santai. Barangkali sedang menunggu pelanggan.

Baca Juga  Kementerian PANRB: Jabatan Fungsional Tak Buat PNS Bisa Kerja Seenaknya

Beberapa lainnya duduk di Sebuah halte angkutan kota di tepi jalan.

Pantauan wartawan porostimur.com, pada Senin malam (12/8) pukul 23.00 WIT. Wanita itu rupanya bukan wanita biasa, mereka adalah kupu-kupu malam.

Mereka terlihat merayu siapa saja yang melintas di dekatnya.

“Bang, cari perempuan kah” ucap salah satu wanita di halte itu setengah berbisik.

“Dua ratus ribu saja sudah termasuk sewa kamar” ucapnya.

Dari penelusuran, warung remang-remang yang mayoritas pelayanannya wanita itu menyediakan menu minuman kopi dan makanan ringan. Ada juga yang menjual bir.

Selain menjadi pelayan, sebagian besar pekerja warung yang berasal dari luar daerah tersebut juga terkadang menemani dan melayani pengunjung dengan tarif Rp 150 ribu hingga Rp 200 ribu.

Baca Juga  Sambut HUT RI, Ini 6 Band yang Lagunya Layak Diputar Saat 17 Agustus

Menurut seorang ibu, penjual rokok di sekitar lokasi, sejumlah wanita itu adalah “agas” penjaja cinta sesaat kepada para brondong dan pria hidung belang.

Warga lain menyebut, keberadaan praktek menyimpang itu sudah berlangsung lama namun sembunyi-sembunyi.

“Dong sudah lama ada. Tiap malam. Tapi bukan juga karyawan karaoke. Hanya beraktivitas di sekitar situ. Dong ada kamar khusus lai kalau su dapat laki-laki”

“Dorang itu sebenarnya meresahkan. Tapi mangkali pemerintah seng tau dong punya keberadaan kapa” pungkasnya.

Beberapa warganya yang ditemui di lokasi mengaku resah dengan praktik prostitusi di warung remang-remang itu. Warga meminta instansi terkait segera menggelar penertiban.(Dayon)