Jika kita menggunakan materialisme sebagai pisau baca, politik memang tidak pernah cukup dipahami melalui kata-kata. Ia harus dilihat dari kondisi material yang membentuk hubungan manusia: siapa memiliki akses terhadap sumber daya, siapa menentukan keputusan, siapa mendapat ruang, siapa memperoleh keuntungan dan siapa yang harus menanggung akibat dari sebuah keputusan politik. Dalam kerangka seperti itu, sebuah jabatan bukan sekadar gelar, melainkan posisi material dalam struktur kekuasaan. Sebuah kursi bukan sekadar tempat duduk, tetapi titik dari mana keputusan dapat dibuat dan kepentingan dapat dipertemukan.
Karena itu pula, “sepiring” bukan sekadar metafora yang cantik. Sepiring nasi adalah benda material yang sangat sederhana, tetapi di dalamnya terkandung seluruh persoalan kehidupan manusia. Rakyat tidak hidup dari pidato politik. Petani tidak mengolah sawah dengan retorika, nelayan tidak melaut dengan jargon, buruh tidak membayar kontrakan dengan teori, dan anak-anak tidak membeli buku dengan janji-janji. Pada akhirnya, seluruh perdebatan besar tentang negara akan kembali kepada sesuatu yang sangat sederhana: apakah manusia dapat makan dengan layak, bekerja dengan bermartabat, menyekolahkan anaknya, memperoleh pelayanan kesehatan dan hidup tanpa rasa takut.








