Oleh: Tony Rosyid, Pengamat Politik dan Pemerhati Bangsa
Prabowo, sebagai penguasa, tentu ingin kekuasaannya tuntas. Minimal 10 tahun. Genap dua periode. Demi mempertahankan dan menuntaskan kekuasaannya, setiap presiden, termasuk Prabowo harus mendapatkan dukungan kuat, terutama dari rakyat. Dukungan di kalangan elit sangat bergantung kepada dukungan rakyat. Jika dukungan rakyat melemah, pada titik tertentu telah memicu eskalasi politik hingga tak terkendali, maka para pendukung terutama yang moderat, pragmatis dan oportunis akan segara keluar dan tarik diri. Peristiwa ini pernah terjadi tahun 1966 di era Soekarno, tahun 1998 di era Soeharto, dan tahun 2002 di era Gus Dur. Sejarah bisa berulang kapan saja.
Tiga peristiwa yang terjadi di tahun 1966, 1998 dan 2002, meminjam istilah Vilfredo Pareto, dicatat oleh sejarah telah menciptakan “circulation of elites”.
Teori “The Circulation of Elites” ini tidak hanya berlaku di Indonesia, tapi di setiap sejarah bangsa. Begitulah sejarah menyuguhkan hukum sosialnya.
Setidaknya ada tiga survei yang dilakukan 2-3 bulan terakhir. Hasilnya: tingkat kepuasan rakyat terhadap Prabowo turun tajam. Diantara lembaga survei itu adalah SMRC dan Indikator. Dalam survei SMRC, tingkat kepuasan rakyat terhadap Prabowo turun menjadi 51,1 persen. Elektabilitas Prabowo bahkan hanya di angka 14,5 persen. Sebagai orang yang punya panggung utama nasional dan menjadi pengendali semua instrumen negara, elektabilitas dibawah 15 persen itu tidak hanya rendah, tapi riskan. Angka 14,5 persen itu maauk katagori UGD, kata salah seorang pimpinan di sebuah lembaga survei. Logistik berlimpah di tangannya dan semua kamera mengikuti aktifitasnya, tapi elektabilitas Prabowo hanya 14,5 persen. Ini secara politik tentu menjadi masalah yang amat serius.









