Banyak pasangan memilih bertahan dan tidak mengajukan perceraian resmi karena berbagai alasan. Misalnya, takut soal hak asuh anak, masalah nafkah, atau khawatir dengan konsekuensi finansial jika harus ke pengadilan.
Karena tidak ada drama besar atau konflik terbuka yang jelas, silent divorce sering kali tidak terlihat. Justru sifatnya yang diam-diam membuat pasangan terlena, sehingga tidak menyadari betapa serius masalah yang sedang mereka hadapi.
Tanda silent divorce
Ada beberapa tanda silent divorce yang bisa terlihat dalam hubungan rumah tangga. Apa sajakah itu? Berikut daftarnya!
1. Kurangnya komunikasi

ilustrasi merasa canggung pasca bertengkar (pexels.com/cottonbro studio)
Komunikasi adalah fondasi utama dalam hubungan. Tanpa komunikasi yang sehat, keintiman emosional perlahan akan memudar. Pada pasangan yang mengalami silent divorce, percakapan yang dulu bermakna kini hanya sebatas urusan praktis seperti siapa yang membayar tagihan atau siapa yang mengurus pekerjaan rumah. Bahkan, bisa jadi komunikasi semakin jarang hingga muncul kesunyian yang membuat pasangan merasa asing satu sama lain.
2. Tidak ada penyelesaian konflik

ilustrasi pasangan sedang bertengkar (pexels.com/cottonbro studio)
Pertengkaran dalam hubungan sebenarnya hal yang wajar, asalkan diikuti dengan usaha mencari solusi. Namun dalam silent divorce, konflik justru dihindari atau dibiarkan menggantung tanpa penyelesaian. Salah satu atau keduanya merasa sudah tidak ada gunanya membicarakan masalah karena hubungan dianggap tidak lagi layak diperjuangkan. Lama-kelamaan, sikap ini menimbulkan jarak yang semakin besar, sebab masalah kecil menumpuk tanpa ada penyelesaian.









