Mina, Kota Terpadat di Dunia?

oleh

Oleh: Alwi Sagaf Alhadar, Kolumnis

Pasca prosesi wuquf di Padang Arafah yang merupakan puncak pelaksanaan ibadah haji, Kota Mina, Saudi Arabia, mendadak berubah wajah menjadi “kota terpadat di dunia”. Walau hanya beberapa hari ‘status unik’ ini disandangnya.

Kerumunan manusia dari berbagai suku bangsa di muka bumi tumpah-ruah di mana-mana. Tak kenal waktu. Pagi, siang, malam, hingga dini hari sekali pun. Entah itu putih, hitam, hingga kulit berwarna. Berbaur menjadi satu. Mereka adalah para tamu Allah Jalla Jalaaluh.

Begitu pula dengan jemaah haji asal Indonesia, nampak tersebar di hampir seluruh sudut-sudut kota. Sudah seperti biasa, kuota haji terbesar selama ini “dipegang” negara kita.

Tak terasa sudah tiga hari para “pemburu gelar haji” ini menetap di Mina. Kota mungil dengan ribuan kemah modern. Sejak hari pertama (10 Dzul Hijjah) penuh dengan hujjaj. Lautan manusia berpakaian ihram serba putih dari Padang Arafah lalu sejenak berdiam di Muzdalifah. Diperkirakan total manusia yang ‘stay’ di Mina lebih dari dua juta jiwa!

Suatu jumlah yang tidak kecil di kota yang luas lingkarnya kurang dari 30 km persegi saja. Bukan hanya jamaah haji saja yang penuhi kota ini. Ternyata para pedagang dari berbagai penjuru jazirah Arab pun ikut nimbrung. Menggelar beraneka barang dagangan.

Naluri bisnis telah menggiring mereka mengarah ke kota yang hanya ramai setahun sekali itu. Khusus pada musim digelarnya ibadah haji. Untuk mengais riyal demi riyal yang mengalir deras dari kantong jamaah haji. Mau sandang, pangan, hingga kebutuhan ibadah. Semua lengkap ada di sana. Dengan harga kompetitif tentunya. Tinggal pintar-pintar nawar saja.

Mengapa jamaah haji harus menetap di Mina? Sebab mereka harus menunaikan salah satu wajib haji, yaitu melempar jumrah. Yang hanya ada di Mina saja.

Hampir setiap menit iringan duyufurrahman (para tamu Allah) bergerak dari berbagai penjuru Mina menuju satu titik. Jamaraat atau tempat melempar jumrah. Jarak terjauh dari kemah sekitar 4 km. Jadi pergi-pulang lebih dari 9 km, lewat beberapa terowongan yang melobangi gunung batu cadas.

Kini, wadah yang dulunya terdiri dari tiga tempat yang masing-masing hanya seluas lingkaran tangan dua orang dewasa itu, telah berubah wajah menjadi berbagai bangunan raksasa nan kokoh berlantai empat. Di dalam salah satu bangunan utama terdapat tiga tiang lonjong besar dikelilingi pagar beton setinggi dagu orang dewasa.

Di situlah ditumpahkan (melempar) segala bentuk kebatilan yang menjurus pada perbuatan munkar. Menggunakan batu kerikil yang diambil saat di Muzdalifah. Ini dilakukan sebagai simbol melempar setan yang dijelmakan dalam tiga bagian. Jumrah ula (pertama), jumrah wustho (tengah), dan jumrah aqabah (terakhir).

Memasuki hari ketiga saat di Kota Mina (12 Dzul Hijjah), bus-bus berukuran jumbo nampak mulai berseliweran dalam kota. Yang mulanya sepi dari kendaraan bermotor. Kehadiran bus besar buatan Jerman dan Korea Selatan ini cukup memacetkan beberapa ruas jalan utama di kota yang dikelilingi pegunungan yang landai ini.

Bolak-balik (taraddud) Mina- Makkah, bus-bus jumbo ini sibuk mengantar jamaah haji kembali ke kota suci tempat lahir Rasulullah SAW. Hingga petang, kota yang memiliki tenda terbanyak sejagat raya ini mulai agak lengang.

Esoknya, Mina kembali sepi. Bak kota tak berpenghuni. Seluruh jamaah haji telah kembali ke Makkah untuk menunaikan Tawaf Wada'(perpisahan). Tawaf ini dilakukan sebagai bentuk penghormatan terakhir pada Baitullah. Dan tanda telah melaksanakan seluruh rukun haji.

Tanpa sadar, tiba-tiba butiran hangat mengalir di sela-sela hidungku. Selamat tinggal ARMINA (Arafah, Muzdalifah, dan Mina). Kan ku kenang dikau sapanjang hayat di kandung badan!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *