Morotai dan Napas Baru Transmigrasi: Dari Tanah Sejarah Menuju Kedaulatan Ekonomi yang Regeneratif

oleh -14 Dilihat

Tidak hanya itu, fasilitas cold storage yang ada kerap tidak berfungsi optimal akibat pasokan listrik yang tidak stabil. “Kami bahkan harus mengambil es batu di Tiley Pantai, jaraknya seratus kilometer dari Sangowo Timur,” keluh Mukhlis, pengepul ikan lokal.

Akibatnya, rantai dingin terputus dan nelayan hanya berfungsi sebagai pemasok bahan mentah tanpa nilai tambah.

Kondisi serupa terjadi pada sektor kelapa. Sebagian besar buah kelapa terbuang sia-sia. “Dari satu buah kelapa, hanya 31 persen yang diolah menjadi kopra. Sisanya—sabut, batok, hingga air—belum dimanfaatkan,” ujar Tahmid Bilo, SP., MMA, Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Morotai. Padahal, setiap komponen kelapa memiliki potensi industri bernilai ekspor.

Baca Juga  Golkar Matangkan Strategi Pemenangan Pemilu 2029 di Indonesia Timur, Pemetaan Target hingga TPS

Solusi Terpadu: Koperasi, Energi Hijau, dan Ekonomi Biru-Hijau

Situasi ini mendorong lahirnya ekosistem baru berbasis evidence-based policy. Menurut Dr. Rachma, kunci pembangunan Morotai adalah menyinergikan sektor energi, perikanan, pariwisata, dan agroindustri ke dalam satu desain sistem ekonomi terpadu.

Salah satu langkah strategis terlihat di Desa Sangowo Timur, yang kini menjadi pusat pembangunan Kampung Nelayan Merah Putih dan koperasi desa.

“Ini adalah terobosan nyata untuk memperkuat kemandirian ekonomi masyarakat,” kata Syarif Sumtaki, Kepala Desa Sangowo Timur.

No More Posts Available.

No more pages to load.