“Tidak ada alasan yang dapat membenarkan kesalahan sebesar ini,” kata mereka dalam pernyataan bersama pada Minggu (11/10/2026).
Ketika dimintai tanggapan oleh The Washington Post, Pentagon tidak memberikan penjelasan khusus mengenai perubahan data tersebut.
Namun, Pentagon menyatakan tetap berkomitmen untuk mencatat seluruh korban dari kalangan personel militer secara transparan dan akurat.
Persoalan pencatatan korban ini muncul di tengah laporan mengenai tekanan fisik dan mental yang dialami personel militer AS selama penugasan terkait konflik Iran.
Bulan sebelumnya, Angkatan Laut AS mengakui bahwa delapan pelaut yang bertugas dalam kelompok tempur kapal induk USS Abraham Lincoln mencoba bunuh diri selama penugasan selama 10 bulan, yang mencakup periode perang melawan Iran.
Pengungkapan itu menyusul berbagai laporan mengenai kelelahan fisik dan mental, penurunan moral, serta kekurangan makanan dan kebutuhan pokok di kalangan personel militer.
Biaya Perang dan Tekanan Politik Meningkat
Di tengah klaim Presiden AS Donald Trump bahwa operasi militer tersebut berhasil, dukungan publik terhadap serangan ke Iran dilaporkan masih menjadi tantangan.
Jajak pendapat Reuters/Ipsos pada September 2026 menemukan bahwa 62 persen warga Amerika tidak menyetujui serangan militer terhadap Iran.









