Puisi dan Puasa: ”Dua Keajaiban yang Melahirkan Kearifan”

oleh -87 views
Link Banner

Oleh: Dino Umahuk, Sastrawan dan Jurnalis

Pertama-tama saya ingin mengutip pepatah lama ”Tanpa sastra manusia tidak akan mati, tetapi juga tidak hidup”.

Kesusasteraan adalah seni berbahasa yang mempunyai kehendak memperhalus budi pekerti, membagi pengalaman, cita-cita, semangat dan cita rasa dalam menjalani tugas sebagai khalifah di muka bumi. Jadi hakikat kesusasteraan tetap sama. Membuat manusia bahagia dan jauh lebih bijaksana.

Puisi adalah karya sastra yang bersifat imajinatif sekaligus konotatif. Dibanding bentuk karya sastra lain, bahasa puisi lebih memilki banyak kemungkinan makna. Hal ini disebabkan karena terjadinya konsentrasi atau pemadatan segenap kakuatan bahasa di dalam puisi. Struktur fisik dan struktur batin puisi yang sanat padat bersenyawa secara padu bagaikan gula dalam larutan kopi.

Link Banner

S. Effendi menyatakan bahwa dalam bahasa puisi terdapat bentuk permukaan yang berupa larik, bait dan pertalian makna larik bait. Kemudian penyair berusaha mengkonkretkan pengertian-pengertian dan konsep-konsep abstrak dengan menggunakan pengimajian, pengiasan dan peambangan. Dalam mengungkapkan pengalaman jiwanya penyair bertitik tolak pada „mood” atau „atmosfer” yang dijelmakan oleh lingkungan fisik dan psikologi dalam puisi. Dalam memilih kata-kata, diadakan perulangan bunyi yang mengakibatkan adanya kemerduan atau eufoni. Jalinan kata-kata harus mampu memadukan kemanisan bunyi dengan makna (S. Effendi 1982:xi)

Untuk memberikan pengertian secara memuaskan tentang puisi cukup sulit. Namun beberapa pengertian dapat disebutkan sebagai berikut:

a. Dalam puisi terjadi pengkonsentrasian atau pemadatan segala unsur kekuatan bahasa.

b. Dalam penyusunannya, unsur-unsur bahasa itu dirapikan, diperbagus, diatur sebaik-baiknya dengan memperhatikan irama dan bunyi.

c. Puisi adalah ungkapan pikiran dan perasaan penyair yang berdasarkan mood atau pengalaman jiwa dan bersifat imajinatif.

d. Bahasa yang dipergunakan bersifat kokotatif; hal ini ditandai dengan penggunaan kata konkret lewat pengimajian, pelambangan dan pengiasan atau dengan kata lain dengan kata konkret dan bahasa figuratif.

e. Bentuk fisik dan bentuk batin puisi merupakan satu kesatuan yang bulat dan utuh menyaturaga tidak dapat dipisahkan dan merupakan kesatuan yang padu.

Baca Juga  Panglima Divisi I Kostrad Nostalgia di Markas Yonif RK 732/Banau

Dengan demikian, puisi adalah bentuk karya sastra yang mengungkapkan pikiran dan perasaan penyair secara imajinatif dan disusun dengan mengkonsentrasikan semua kekuatan bahasa dengan pengkonsentrasian struktur fisik dan stuktur batinnya.

Lalu apa hubungan puasa dan puisi? jelas puasa dan puisi memiliki makna yang berbeda dan bahkan tidak memiliki hubungan apa pun. Persoalannya menjadi lain kalau kita melihat konsepnya.

**
Puasa —tidak dalam pengertian khusus saum di bulan Ramadan oleh umat Islam—adalah sebuah kegiatan manusia yang memiliki tujuan kebaikan. Intinya mendekatkan diri pada Tuhan.

Dalam mendekatkan diri pada Tuhan, berbarengan dengan puasa tersebut agama tertentu ada yang mengharuskan untuk menyepi, mengasingkan diri dari keramaian. Sepi yang hakiki adalah suasana yang terjauhkan dari unsur-unsur duniawi yang sering mengganggu. Sepi yang hakiki adalah semedi. Kontemplasi. Dan Tuhan sangat menyenangi ruang-ruang hakiki semacam itu.

Untuk mencapai tingkat sepi yang hakiki dalam menyepi tersebut, pikiran harus dikosongkan. Tubuh harus dicuci dan disucikan dari kotoran duniawi. Pada lapisan terluar, makanan yang masuk ke dalam tubuh juga harus diseleksi. Perut harus lebih banyak dikosongkan. Perut adalah simbol dari ketamakan, keserakahan, nafsu. Perut adalah muara dari unsur-unsur duniawi. Oleh sebab itu, salah satu model pembersihan diri dari pengaruh tersebut adalah dengan berpuasa. Di dalam adat dan kebudayaan Jawa, bahkan ada puasa empat puluh hari empat puluh malam tanpa henti atau yang disebut mati geni.

Islam memang melarang puasa demikian. Tapi, inti dari saum tampak tidak jauh berbeda. Dalam konsep Islam sangat eksplisit dijelaskan bahwa shaum adalah ibadah istimewa untuk Allah, bukan untuk hamba yang melakukannya. Saum dalam konsep Islam adalah sebuah kesempatan yang diberikan Allah kepada umat Islam supaya memberikan ”kado” untuk Allah itu sendiri. Allah tentu saja akan sangat senang jika kado yang diterima dari hamba-Nya merupakan bingkisan istimewa.

Baca Juga  Persaudaraan

Untuk membuat kado istimewa tersebut, Allah sendiri menunjukkan cara-caranya. Pada lapisan paling luar, cara yang harus ditempuh adalah menahan lapar sehari penuh. Menahan lapar artinya menahan makanan dan hal-hal lain masuk ke dalam perut. Sebab makanan adalah unsur duniawi dan perut bisa dikatakan sebagai simbol keduniawian, menahan lapar bermakna menahan atau paling tidak mengurangi nafsu duniawi. Islam menyebutkan bahwa saum yang baik adalah saum yang tidak hanya menahan lapar fisik (makanan masuk ke dalam perut), tetapi juga menahan godaan-godaan nafsu (batin). Saum adalah arena pertempuran antara kesalehan dan ketamakan, kerakusan, dan sejenisnya.

Agar hal itu tercapai, Islam juga menunjukkan berbagai metode, antara lain banyak beramal, salat malam (Tarawih), jangan membicarakan keburukan orang lain, zakat fitrah, banyak silaturahim, dan seterusnya. Intinya melakukan kegiatan yang mendekatkan diri pada Allah. Aktivitas keseharian harus sangat selektif. Lebih baik diam dan tidur jika aktivitas yang dilakukan malah menjauhkan diri dari Allah. Pada titik ini Puasa sudah tentu mengajarkan kita untuk tidak boros dan tidak korupsi.

***

PUISI, bukankah sebuah wahana sekaligus produk sebuah kontemplasi. Mungkin tidak semua penyair menulis sajak untuk mendekatkan diri pada Tuhan. Tapi, dalam kontemplasi, hampir semua penyair, hemat saya, berusaha merapatkan diri pada hakikat: keindahan, kebenaran, kejujuran, kejernihan bahasa, dan seterusnya. Penyair itu, kata Saini KM, adalah ia yang berumah di sebuah kuil di tengah hutan. Ia juga kayu dalam pembakaran,. Ia pergi pada inti kehidupan, tulis Ramadhan KH. Bukankah inti kehidupan adalah Tuhan?

Untuk mencapai inti kehidupan tersebut, puisi juga harus diciptakan secara metodologis. Artinya, tidak cukup hanya sebagai artikulasi dari kontemplasi. Raja penyair Indonesia, Chairil Anwar, menyebut soal wahyu dalam proses kreatifnya. ”Wahyu dan wahyu ada dua, tidak semua wahyu itu menjadi,” demikian ungkapnya.

Baca Juga  Puasa

Apa yang dimaksud wahyu pertama oleh Chairil di atas adalah inspirasi, sebuah kelebat dalam imajinasi. Inspirasi biasanya muncul dalam kontemplasi. Dengan kata lain, inspirasi adalah produk kontemplasi. Produk kontemplasi ini akan selesai jika ada wahyu kedua, yang tidak lain adalah metodologi. Chairil lalu membuat statement yang cukup menukik tajam, “carilah makna sampai ke akar kata!”, begitu kurang lebih sarannya agar wahyu pertama tadi menjadi (eksis).

Mencari kata sampai ke akar kata adalah soal kesabaran, ketekunan, seleksi, dan usaha-usaha lain dalam berbahasa. Penyair yang baik tidak tergesa-gesa memilih kata, tidak tamak, tidak mengumbar nafsu berkata-kata. Persis seperti orang yang sedang menjalankan puasa dengan baik.

Walhasil, menahan diri dalam berpuasa identik dengan memiliki kesabaran dalam berpuisi. Menyeleksi makanan dan aktivitas dalam berpuasa berbanding lurus dengan menyeleksi kata (diksi) dalam berpuisi. Lebih baik diam dan tidur daripada berkata-kata dan beraktivitas jika hanya akan menjauhkan diri dari Tuhan sama saja dengan lebih baik tidak menjadi penyair ketimbang menulis puisi cuma merusak bahasa. Pada titik ini, sudah tentu penyair yang baik tidak akan boros dan tidak akan mengkorupsi kata-kata.

Berikut sepenggal puisi Jalaluddin Rumi yang terkenal berjudul “Mastnawi” yang diterbitkan oleh penerbit Mizan dengan judul “Terang Benderang”.

Kuingin dadaku terbelah oleh perpisahan/ Agar bisa kuungkapkan derita kerinduan cinta/ Setiap orang yang jauh dari sumbernya/ Ingin kembali bersatu dengannya seperti semula.

Puisi tersebut menjadi bernas sebab diksi yang jitu, kata yang merangkum dunia yang dengan lengkap memunculkan paradoks dalam kehidupan dan keimanan.

Tentu Rumi tidak menulisnya dengan tergesa-gesa. Ia selektif, teliti, dan penuh kesabaran. Sebagaimana sabarnya orang berpuasa.

Maka pada selasar inilah saya kira puisi memiliki keajaiban yang mirip dengan puasa. Keduanya sama-sama melahirkan kearifan! (*)