Putri Dubes Afghanistan Diculik dan Disiksa dengan Brutal di Pakistan

oleh -116 views
Link Banner

Porostimur.com | Islamabad: Sekelompok orang tak dikenal menyerang secara brutal kedutaan besar Afganistan di Pakistan.

Putri Duta Besar Afghanistan untuk Pakistan, Silsila Alikhil (26) diculik dan disiksa sekelompok orang di Islamabad, Pakistan.

Dilansir The Guardian, pemerintah kedua negara pada Sabtu (17/7/2021) mengatakan Alikhil ditahan beberapa jam dan mendapat serangan brutal.

Hingga kini, belum ada yang ditangkap terkait serangan brutal pada Jumat (16/7/2021) itu.

Kementerian Luar Negeri Afghanistan mendesak agar segera dilakukan penyelidikan atas kejahatan ini.

Menurut laporan medis yang didapatkan Associated Press, Alikhil menderita luka pukulan di kepalanya.

Wanita 26 tahun itu juga mengalami luka bekas ikatan tali di pergelangan tangan dan kaki, serta bukti pemukulan.

Dia juga diduga mengalami patah tulang dan tengah dilakukan rontgen untuk memastikannya.

Baca Juga  Selama Libur Natura, 12 Ribu Orang Masuk Ambon Melalui Bandara Pattimura

Masih menurut laporan, para penculik menahan Alikhil selama lebih dari 5 jam.

Diketahui Alikhil dilarikan ke rumah sakit di Islamabad oleh polisi.

Belum ada rincian lebih lanjut terkait penculikan atau kondisi Alikhil saat dibebaskan.

Pemerintah Pakistan menyebut serangan itu “mengganggu”.

Pihaknya mengatakan keamanan di kediaman Dubes Afghanistan di Islamabad telah diperkuat.

Sementara itu Perdana Menteri Pakistan, Imran Khan ingin masalah ini diperlakukan sebagai prioritas utama.

Dia juga menyerukan agar pelakunya ditangkap dalam waktu 48 jam, kata Menteri Dalam Negeri Sheikh Rashid Ahmed.

Kemenlu Afghanistan mengutuk insiden yang terjadi pada keluarga utusan negara Afghanistan ini.

Pendukung partai Tehreek-e-Labbaik Pakistan (TLP) melempar batu ke kendaraan lapis baja polisi selama protes terhadap penangkapan pemimpin mereka saat dia menuntut pengusiran duta besar Prancis atas penggambaran Nabi Muhammad, di lingkungan Barakahu di Islamabad pada 13 April 2021. Ribuan pendukung partai ekstremis Pakistan bentrok dengan polisi untuk hari kedua, menuntut pembebasan pemimpin mereka yang ditangkap setelah menyerukan duta besar Prancis untuk diusir dari negara itu atas dukungan Prancis untuk hak majalah untuk menerbitkan ulang kartun Nabi Muhammad.
Pendukung partai Tehreek-e-Labbaik Pakistan (TLP) melempar batu ke kendaraan lapis baja polisi selama protes terhadap penangkapan pemimpin mereka saat dia menuntut pengusiran duta besar Prancis atas penggambaran Nabi Muhammad, di lingkungan Barakahu di Islamabad pada 13 April 2021. Ribuan pendukung partai ekstremis Pakistan bentrok dengan polisi untuk hari kedua, menuntut pembebasan pemimpin mereka yang ditangkap setelah menyerukan duta besar Prancis untuk diusir dari negara itu atas dukungan Prancis untuk hak majalah untuk menerbitkan ulang kartun Nabi Muhammad. (Aamir QURESHI / AFP)

Sebelumnya, hubungan antara Pakistan dan Afghanistan diwarnai kecurigaan sejak lama.

Kedua negara saling bertukar tuduhan perihal kelompok ekstremis.

Afghanistan mengklaim Pakistan memfasilitasi kelompok Taliban.

Baca Juga  Sambut HUT Korem Binaiya Ke-18, Danrem Ziarah ke TMP Kapahaha

Di sisi lain Pakistan juga menuduh Afghanistan menyembunyikan kelompok anti-Pakistan dan Tentara Pembebasan Balochistan.

Menyusul penarikan pasukan AS dan NATO, pemerintah Afghanistan meningkatkan serangan verbal kepada Pakistan.

Pada Sabtu lalu, Kemenlu Afghanistan memanggil Dubes Pakistan Mansoor Ahmad Khan untuk memprotes serangan yang dilakukan Taliban.

Dikutip dari BBC, wilayah kekuasaan Taliban di Afghanistan semakin luas setelah pasukan asing pergi.

Kini pos-pos perbatasan telah direbut kelompok ini dari pasukan Afghanistan.

Taliban bergerak cepat menyusul penarikan pasukan asing yang dijanjikan Presiden AS Joe Biden akan selesai pada 11 September.

Negara-negara sekutu lainnya, juga telah menarik hampir semua pasukan militer sebelum tenggat waktu Biden.

(red/tribunnews)