Feri Amsari, salah seorang penggagasnya, memilih ungkapan penegas. Mereka bukan lawan pemerintah, melainkan kawan pemerintah. Kalimat itu sesungguhnya menyimpan pelajaran penting tentang demokrasi. Seorang kawan bukanlah orang yang selalu membenarkan setiap keputusan. Justru karena ia seorang kawan, ia berkewajiban mengingatkan ketika arah mulai keliru dan menawarkan jalan yang mungkin lebih baik. Kritik, dalam pengertian itu, bukanlah permusuhan, melainkan bentuk kepedulian terhadap kepentingan bersama.
Karena itu, kehadiran Kabinet Bayangan semestinya tidak dibaca sebagai ancaman politik. Ia adalah cermin yang membantu kekuasaan melihat dirinya sendiri. Pemerintah yang yakin pada legitimasi dan kualitas kebijakannya tidak akan gentar menghadapi kritik yang disampaikan secara terbuka, argumentatif, dan konstitusional. Sebaliknya, kegelisahan terhadap kritik sering kali justru memperlihatkan rapuhnya kepercayaan diri sebuah kekuasaan.
Pada akhirnya, yang patut direnungkan bukanlah keberadaan Kabinet Bayangan itu sendiri. Ia hanya gejala. Ia lahir karena ada kebutuhan yang dirasakan publik: kebutuhan akan pengawasan, kebutuhan akan kritik yang jujur, dan kebutuhan akan alternatif pemikiran di tengah kekuasaan yang nyaris tanpa penyeimbang.









