Sebelumnya, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menegaskan bahwa Teheran akan menuntut “harga mahal” atas serangan Israel terhadap fasilitas strategis di negaranya, termasuk pabrik baja dan situs nuklir.
Sejak konflik meletus pada 28 Februari, otoritas Israel melaporkan sedikitnya 18 warga sipil tewas akibat serangan rudal Iran, termasuk anak-anak dan warga negara asing.
Militer Israel Hadapi Tekanan Internal
Di tengah konflik yang terus meluas, Kepala Staf militer Israel, Eyal Zamir, memperingatkan adanya krisis internal serius dalam tubuh militer.
Dalam rapat kabinet keamanan, ia menyebut kekurangan personel menjadi ancaman besar di tengah operasi militer yang berlangsung di berbagai front, mulai dari Gaza, Lebanon, Suriah, hingga Tepi Barat.
“Saya mengangkat 10 bendera merah,” ujarnya, menandakan kondisi yang dinilai semakin mengkhawatirkan.
Ia juga menyoroti belum adanya langkah kebijakan yang memadai dari pemerintah untuk mengatasi persoalan struktural, termasuk terkait wajib militer.
Houthi Buka Front Baru
Situasi semakin kompleks setelah kelompok Houthi dilaporkan meluncurkan rudal dari Yaman ke wilayah selatan Israel pada Sabtu pagi.
Militer Israel menyatakan sistem pertahanan udara diaktifkan untuk mencegat serangan tersebut, dengan sirene berbunyi di wilayah Beersheba dan sekitarnya.









