Oleh: Dino Umahuk, Sastrawan Indonesia
Jebakan ketamakan membuat kita tersandung untuk maju dan lebih beradab. Lakon ketamakan tak pernah habis dieksplorasi menjadi tontanan yang nyata dilakukan secara sadar di panggung politik negeri ini, maupun yang diimajinasikan dalam sinetron televisi.
Para pemikir klasik, baik dari yang paling kiri hingga kanan. Dari, Freurbach hingga Adam Smith, telah mengingatkan soal melemahnya moralitas atas kuatnya arus modal, berikut efek destruksinya yang menjadi tsunami kebudayaan. Agama baru bernama konsumerisme dan hedonisme semakin tak terkontrol, bahkan over dosis dan cenderung korosif.
Kita bahkan sudah tidak risih dengan munculnya warna sosial yang norak dan cenderung seronok. Laksana jamur di musim penghujan, kita tidak pernah alpa dengan berita miris tentang mahkluk mulia di muka bumi bernama manusia dengan berbagai dinamika sosialnya. Padahal merujuk pada sejarah manusia, kebudayaan adalah media pencerah yang memberikan tempat bagi ekspresi dan eksplorasi sehingga manusia sebagai makluk berbudaya mampu menyelenggarakan kehidupan yang lebih baik dan beradab.
Maka disini kita patut bersedih melihat lakon kekuasaan di negeri ini. Para penguasa, pejabat, pemimpin daerah ini sibuk mendemonstrasikan keserakahan sambil memuja ketamakan untuk kepentingan diri sendiri, keluarga dan golongannya, sembari membiarkan agenda-agenda rakyat yang mendesak seperti pendidikan, kesehatan, pelayanan publik, akses publik, dan semua keberlangsungan manusia yang lestari berjalan tertatih-tatih bahkan cenderung mati.
Padahal sejarah manusia, semenjak Firaun hingga Hitler, dari Plato hingga Machievelli, jelas mengajarkan tentang akhir pahit dari sebuah kekuasaan yang tamak. Sementara agama sejatinya menuntun arah manusia untuk bersikap sederhana, tidak serakah, dan puas dengan hasil usaha sendiri.
Abul Hasan Al-Warraq ra berkata, “Siapa yang merasakan cinta terhadap sesuatu dari dunia, berarti ia telah dibunuh oleh pedang ketamakan. Kalau Tamak ditanya siapa bapakmu? Maka sang tamak mengatakan, “Keraguan terhadap takdir .”. Kalau ditanya apa pekerjaanmu wahai tamak? “Pekerjaanku adalah menciptakan kehinaan.” Jika ditanya apa tujuanmu? “Tujuanku adalah menghalangi hamba dengan Allah.”
Sayangnya para pemimpin kita, baik yang duduk di parlemen maupun di tampuk pemerintahan, adalah mereka yang terlanjur jatuh cinta pada sesuatu urusan dunia. Dengan demikian akal nurani mereka telah mati terbunuh oleh pedang ketamakan. Ibarat lagu Dangdut terlanjur basah ya sudah mandi sekali, terlanjur berkuasa ya sudah korupsi sekali.
Rasa-rasanya apa yang terjadi dengan para pemimpin kita saat ini sungguh jauh dari cita-cita kemedekaan yang diperjuangkan pada pendiri republik puluhan tahun silam. Oleh karena itu menurut saya, tidak ada jalan lain, kecuali menumbuhkan kesadaran kolektif kita semua untuk segera bangkit, segera berjuang mengembalikan negeri ini pada satu cita-cita perjuangan yang dulu telah dipelopori oleh para pejuang.
Bahwa tujuan masyarakat adil dan makmur harus menjadi program kerja nyata yang terintegrasi dan terinternalisasi dalam batin kita, sembari mengosongkan ketamakan dari ruang hati, akal pikiran dan kebudayaan kita.
Mari kita mencontoh Bapak Nabiyullah Ibrahim as, ketika mengatakan, “Sesungguhnya aku tidak senang dengan yang bisa sirna.” Padahal segala hal selain Allah adalah sirna.” Sehingga dengan demikian, semoga kita semua akan terus belajar menjadi lebih beradab. Amin… (*)



