Terlibat Kasus Pemerkosaan, Dua Oknum Anggota Polda Maluku Dituntut 8 Tahun Penjara

oleh -334 views

Porostimur.com, Ambon – Dua oknum anggota Polda Maluku atas nama Bripka Sandro Nendisa dan Briptu Rian Gusye Souisa yang menjadi terdakwa dugaan tindak pidana pemerkosaan, dituntut delapan tahun penjara oleh Jaksa Penuntut Umum Kejaksaan Negeri Ambon.

“Meminta majelis hakim yang memeriksa dan mengadili perkara ini menyatakan para terdakwa bersalah melanggar Pasal 285 KUHP Juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP,” kata JPU Arif M Kanahau di Ambon, Selasa (5/12/2023) kemarin.

Adapun hal yang memberatkan terdakwa adalah status mereka sebagai anggota Polri yang seharusnya melindungi, mengayomi, dan menjadi panutan di masyarakat. Selain itu, perbuatan para terdakwa telah mencoreng institusi Polri.

Sedangkan yang meringankan adalah para terdakwa berlaku sopan dalam persidangan dan keduanya belum pernah dihukum. Menurut JPU,  kejadian ini terjadi pada Senin (19/6/2023) sekitar pukul 19:00 WIT dalam kamar sebuah hotel di Kota Ambon.

Korban kemudian mendatangi Mapolda Maluku untuk membuat laporan polisi atas tindakan kekerasan yang dilakukan kedua terdakwa terhadap dirinya. Majelis hakim menunda persidangan hingga pekan depan dengan agenda mendengarkan pembelaan Penasihat Hukum terdakwa, Hendri Lusikoy dan kawan-kawan.

Untuk diketahui, dua oknum Polri itu, yakni, Bripka SN dan Briptu Rian Souisa. Kedua dikabarkan bertugas di Direktorat Reserse Kriminal Narkoba (Ditresnarkioba) Polda Maluku, dan sudah diamankan di Bidpropam Polda Maluku.  

Peristiwa pidana ini terjadi di Hotel Budget yang berada di kawasan Batu Mejah, Kecamatan Sirimau, Kota Ambon. 

Tepat sekitar pukul 19.00 WIT, korban Grace saat itu berada di kosanya yang terletak di kawasan Soema. Tiba-tiba, wanita berusia 39 tahun itu dihubungi Bripka SN untuk meminum minuman keras di kamar hotel 212. 

Baca Juga  Bongkar Rekayasa Pilpres 2024, BEM DIY: Kecurangan Pemilu Terstruktur dan Sistematis

Ajaka Bripka SN langsung diiyakan korban dengan alasan dirinya baru selesai melukis tato pada punggung belakang, sehingga korban berpikir untuk menghilangkan rasa sakit korban dan harus minum minuman keras. Alasan keduanya, korban meminta Bripka SN memberikan uang kepada korban. 

Sesampai di Hotel Budged, korban langsung menuju ke kamar 212. Disana, korban melihat Bripka SN ditemani rekannya Briptu RS sedang mengkonsumsi minuman keras jenis Bronson dicampur dengan Cocacola kemudian korban diberikan minuman tersebut. 

Kurang lebih tiga kali korban minum miras tersebut, Bripka SN menyuruh korban untuk buka baju dengan alasan mau melihat tato korban. Saat korban hendak menurunkan baju korban, Bripka SN langsung paksa membuka baju korban. Sementara rekannya, Briptu RS memegang tangan korban. 

Usai melancarkan aksi bejadnya , korban langsung ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Ia juga sempat mengirimkan pesan WA ke Iptu Yance Sagerlawan yang diketahui sebagai Kapolsek kawasan Bandara Pattimura Ambon untuk menjemputnya. 

Baca Juga  Pakar Asing Sebut Nasib Papua Makin Parah Jika Prabowo Memerintah

Mengetahui itu, Bripka SN naik pitam dengan mengeluarkan kata makian serta pemukulan dengan menggunakan kepalan tangan yang mengena pada bawah mata kiri korban hingga bengkak serta kepala korban. Bripka SN juga diduga mengambil bantal dan menindih wajah korban dengan mengeluarkan kata ancaman. 

Selanjutnya, korban diberi uang senilai Rp500 ribu oleh Bripka SN, dan korban langsung melarikan diri keluar dari kamar tersebut. Ia kemudian menghubungi, Maikel kerabatnya itu untuk mengantarnya ke kantor Bidpropam Polda Maluku dan melaporkan hal tersebut. (red/rep/kbrn)

Simak berita dan artikel porostimur.com lainnya di Google News

No More Posts Available.

No more pages to load.