Mematikan Karakter di Bawah Panji Pancasila
Sungguh ironis jika lomba yang membawa nama Pancasila justru dipraktikkan dengan cara-cara yang menindas nalar kritis. Kita mendorong siswa menghafal konstitusi, namun di saat yang sama mempertontonkan bahwa penguasa bisa “mengaburkan” pasal sesuka hati.
Sikap juri yang membungkam protes siswa adalah sabotase terhadap pendidikan karakter. Kita menuntut generasi muda berintegritas, namun kita membalas keberanian sipil (civic courage) mereka dengan keangkuhan birokratis.
Urgensi Reformasi Otoritas
Kasus ini adalah alarm bagi penyelenggara. Institusi negara harus memastikan bahwa mereka yang duduk di kursi juri bukan sekadar penghafal pasal, melainkan manusia dengan kerendahan hati intelektual. Kita tidak butuh tiran-tiran kecil di atas podium yang alergi terhadap koreksi.
Jika di level lomba siswa saja kebenaran bisa dimanipulasi secara terang-terangan, bagaimana kita bisa memercayai transparansi di level kebijakan yang lebih tinggi? Kejujuran adalah pilar tertinggi bangsa, dan itu harus dimulai dari konsistensi antara kata dan perbuatan di atas mimbar ujian. (**)









