MATAHARI DI PUCUK PAGI
Matahari gembira di pucuk pagi
hangat kopi bubuk memeluk bibir
menguap embusan cinta
temu yang dingin pun takluk
pada rindu yang hangat bernyanyi
dengan merdu
Di mataku masa lalu berlayar
melambai pada hati paling biru
di bibir pantai angin berderu
sembari burung-burung
malantunkan syair-syair karangan sendiri
Baiknya alam tidak mampu ditolak
untuk mata yang selalu ingin dimanjakan
untuk telinga yang meminta hiburan
Siapa lagi yang akan berdusta pada semata?
Matahari berlahan-lahan memanjat langit
paling tinggi, nelayan melambaikan tangan
dayung berlenggang, rindu pun kembali berdendang
Tahoku, 06 Juli 2023
========
UNDANGAN CINTA
Malam ini
kalau namaku terpanggil untuk datang
tak perlu kau lelahkan jiwa
cukup sambut diriku
dengan aroma kopi
manisnya senyuman
seperti kala kau dihidangkan
dengan kata
Aku mencintaimu
dari orang yang kau cintai
Ku mendambakan itu
kalau saja itu terjadi
maka kuhadiahkan tanganmu dengan puisi
seperti yang kau dambakan di setiap hari
Kalau saja itu terjadi
dengan terpanggilnya diriku
mungkin saja
akan ada ledakan cinta di dada
sampai seribu tahun lamanya
Passo, 07 Juli 2023
=======
Firman Wally pria kelahiran Tahoku 03 April 1995. Lulusan Universitas Pattimura Ambon jurusan Sastra dan Bahasa Indonesia. Namanya sudah tergabung kurang lebih 60 antologi bersama. Antologi tunggalnya “Lelaki Leihitu” “Kutemukan Penyesalan di Setiap Kehilangan” dan “Menghibur Luka”. Puisi-puisinya pernah dimuat di berbagai redaksi baik online maupun cetak: APAJAKE, SEMESTA SENI, ELIPSIS, Poros Timur dll. Kini aktifitasnya sebagai pengajar.
Nama pena: firmanwally02









