Porostimur.com, Hebron – Dimulainya FIFA World Cup 2026 membawa antusiasme tersendiri bagi warga Palestina di Tepi Barat. Meski tim nasional mereka gagal lolos ke putaran final, turnamen sepak bola terbesar di dunia itu tetap menjadi hiburan sekaligus pelipur di tengah tekanan kehidupan sehari-hari.
Bagi banyak warga, khususnya generasi muda, sepak bola bukan sekadar permainan. Di tengah situasi konflik berkepanjangan, lapangan menjadi ruang untuk bernapas sejenak dari realitas yang keras.
Bermain di Bawah Bayang-Bayang Konflik
Di Desa Umm al-Khair, kawasan Masafer Yatta, selatan Hebron, anak-anak tampak bermain sepak bola di lapangan sederhana yang berbatasan langsung dengan pagar kawat berduri. Pagar tersebut memisahkan wilayah mereka dengan permukiman Israel di dekatnya.
Aktivitas bermain sering kali terganggu. Warga setempat mengisahkan, bola yang keluar lapangan kerap diambil oleh pemukim yang melintas, membuat permainan terhenti.
“Sudah puluhan bola yang hilang. Kami sering tidak bisa mengambilnya kembali karena khawatir memicu masalah,” ujar salah satu warga.
Situasi ini mencerminkan bagaimana aktivitas sederhana seperti bermain bola pun tak lepas dari ketegangan yang ada.
Stadion Jadi Tempat Bertahan Hidup
Di kota Nablus, aktivitas sepak bola masih berlangsung meski dalam keterbatasan. Anak-anak dan remaja dari akademi lokal tetap berlatih di stadion kota yang kondisinya mulai rusak.









