Wawali Tual Ajak Mahasiswa Berpikir Kritis di Tengah Gempuran AI

oleh
Wakil Wali Kota Tual Amir Rumra mengingatkan mahasiswa Universitas Doktor Husni Ingratubun (Uningrat) agar tidak kehilangan kemampuan berpikir kritis.

Porostimur.com, Tual — Di tengah perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) yang semakin masuk ke berbagai aspek kehidupan, Wakil Wali Kota Tual Amir Rumra mengingatkan mahasiswa Universitas Doktor Husni Ingratubun (Uningrat) agar tidak kehilangan kemampuan berpikir kritis.

Pesan itu disampaikan Amir Rumra saat menghadiri Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) Uningrat Tahun Akademik 2026/2027, Jumat (11/9/2026).

Sebanyak 365 mahasiswa tercatat bergabung dengan Uningrat. Dari jumlah tersebut, 260 mahasiswa mengikuti PKKMB pada 2026, sementara 105 calon mahasiswa baru dijadwalkan mengikuti PKKMB pada tahun berikutnya.

Menurut Amir, perkembangan AI telah memengaruhi berbagai aspek kehidupan manusia, termasuk kehidupan sosial dan dunia pendidikan. Karena itu, mahasiswa tidak cukup hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga harus mampu memahami risiko dan menggunakannya secara bertanggung jawab.

“Jangan jadi generasi yang hanya mampu memanfaatkan teknologi AI, namun jadilah generasi yang mampu menggunakan teknologi secara bertanggung jawab,” ungkapnya.

AI Membantu, Bukan Menggantikan Proses Berpikir

Amir menegaskan, AI seharusnya ditempatkan sebagai alat bantu dalam proses pembelajaran maupun penelitian, bukan sebagai pengganti kemampuan berpikir manusia.

“Gunakan AI sebijak mungkin untuk membantu proses mengajar dan riset, tapi jangan pernah menyerahkan sepenuhnya proses berpikir pada teknologi,” paparnya.

Menurutnya, kemajuan teknologi harus berjalan beriringan dengan etika dan tanggung jawab. Inovasi tidak boleh dilepaskan dari nilai kemanusiaan.

Ia juga menilai literasi AI menjadi semakin penting agar masyarakat, khususnya mahasiswa, mampu memilah informasi yang dihasilkan teknologi.

Pasalnya, informasi yang diberikan AI tidak selalu bebas dari kesalahan maupun bias. Karena itu, setiap informasi yang diterima tetap membutuhkan proses verifikasi dan penilaian kritis.

“Mampu mengevaluasi hasil AI berawal dari kemampuan berpikir yang reflektif. Jika Anda memilikinya, maka Anda tidak akan tergantikan oleh AI,” ujarnya menegaskan.

Pesan tersebut sekaligus menjadi pengingat bagi mahasiswa agar tidak menjadikan kemudahan teknologi sebagai alasan untuk mengurangi proses membaca, meneliti, menganalisis, dan membangun argumentasi secara mandiri.

Kampus Harus Jadi Ruang Lahirnya Inovasi

Selain mengingatkan mahasiswa mengenai tantangan AI, Amir Rumra juga mendorong kampus menjadi ruang tumbuhnya inovasi.

Menurutnya, perkembangan teknologi kecerdasan buatan saat ini tidak terlepas dari dunia akademik. Banyak inovasi teknologi lahir dari lingkungan kampus melalui riset, kreativitas, dan keberanian mengembangkan gagasan baru.

Karena itu, mahasiswa Uningrat didorong tidak hanya menjadi konsumen teknologi, tetapi juga mulai memikirkan bagaimana menciptakan inovasi yang bermanfaat bagi masyarakat.

“Kampus adalah tempat untuk berinovasi. Saya berharap Anda semua dapat memberikan inovasi baru dan mewarnai kecanggihan teknologi di era digitalisasi,” pungkasnya.

Bagi Amir, tantangan mahasiswa di era AI bukan sekadar mampu menguasai teknologi, tetapi tetap menjadi manusia yang mampu berpikir kritis, memiliki etika, bertanggung jawab, dan menggunakan teknologi untuk menghasilkan manfaat bagi masyarakat.

(Megarivera Renyaan)

Porostimur.com berkomitmen memberikan fakta jernih, terpercaya, dan berimbang. Simak berita dan artikel terbaru kami di: WhatsApp Channel porostimur.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *