Dia mencontohkan misalnya, istilah itu sempat digaungkan oleh penjajah Belanda kepada para pejuang Indonesia. Beberapa di antaranya, Teuku Umar di Aceh serta pahlawan Pattimura di Maluku.
“Jadi jika itu yang dimaksud adinda Ngabalin tentang teroris, Alhamdulillah saya diberi gelar teroris olehnya,” tambah dia.
Abdullah pun merasa tak ada yang salah dari pernyataannya soal Musa dan Firaun. Dia menggambarkan bahwa Jokowi memang layak digambarkan sebagai Firaun karena merupakan penguasa di Indonesia saat ini.
Sementara TP3, kata dia, cocok untuk digambarkan sebagai Musa yang memberikan kritik, saran dan idenya kepada penguasa kala itu.
“Pada waktu yang sama, Presiden siapa saja dapat dianalogikan sebagai Firaun dalam kedudukannya sebagai kepala negara sekalipun kualitas dan model kepemimpinannya berbeda,” kata mantan pimpinan KPK itu.
Sebelumnya, Ngabalin menilai bahwa pernyataan soal Musa dan Firaun itu memperkeruh suasana. Dia mengatakan bahwa Presiden telah meluangkan waktu untuk bertemu TP3.
Ngabalin menilai kebijaksanaan Jokowi itu tidak dibalas dengan kebaikan Hehamahua dkk.
“Dia punya gaya perilakunya menyihir umat. Seperti jatuh dari langit, tidak pernah punya dosa. Seperti malaikat, tidak punya beban, tidak punya dosa,” ucap Ngabalin saat melansir CNNIndonesia.com, Jumat (16/4/2021).(red/mjo/pmg/cnn)




