Absurditas Lord Rangga dan Ilusi Kemenangan Diplomasi Prabowo

oleh -238 views

Oleh: Dino Umahuk, Jurnalis senior dan sastrawan nasional

Mendiang Lord Rangga—atau Edi Raharjo—pernah berdiri dengan topi baret biru dan seragam bak jenderal, lalu menyatakan bahwa dunia ini berada di bawah kendali Sunda Empire. Ia menyebut negara-negara harus “daftar ulang”, Gedung Sate adalah pusat satelit global, dan tatanan dunia sesungguhnya dikomandoi dari tanah Pasundan. Banyak orang tertawa. Sebagian menggeleng. Tak sedikit pula yang menganggapnya sekadar selebritas absurd di era media sosial.

Ia wafat pada 7 Desember 2022 di RS Mutiara Bunda Tanjung, Brebes—keluarga menyebut karena kelelahan dan sakit paru-paru. Namun gagasan-gagasannya, betapapun liar dan fantastis, menyisakan satu jejak penting: absurditas kadang menjadi cermin. Ia memantulkan wajah kekuasaan dengan cara paling ganjil.

Baca Juga  Pakar Soroti Peran Brimob dalam Kasus Tewasnya Siswa MTs di Tual

Lord Rangga pernah mengklaim ingin mendamaikan dunia, hendak hadir di forum G20, bahkan bercita-cita menggelar Konferensi Dunia ke-3 di Bandung. Dalam logika yang tak lazim, ia membayangkan dirinya sebagai poros perdamaian global. Kita menertawakannya karena ia tak memiliki mandat, tak punya kekuasaan formal, dan tak berada dalam struktur kenegaraan.

Namun sejarah kerap menghadirkan ironi: apa yang dulu terdengar absurd dalam panggung imajinasi, kadang menemukan gema dalam panggung resmi diplomasi.

No More Posts Available.

No more pages to load.