“Rumput laut dapat diolah menjadi tiga hal yakni bahan makanan, kemudian bisa diolah menjadi bahan industri seperti bahan tambahan pengeboran ramah lingkungan hingga untuk kebutuhan farmasi atau obat-obatan,” ucapnya.
Ia mengungkapkan daerah yang berpotensi besar untuk mengembangkan industri budi daya rumput laut di Maluku yakni Maluku Tenggara, Tual, Tanimbar, Aru dan Maluku Barat Daya (MBD).
“Maluku Tenggara itu pulaunya berlapis-lapis. Sehingga produksi rumput laut tidak harus bergantung angin musim apa pun. Ini menjadi salah satu alasan utama kenapa Maluku Tenggara menjadi sasaran untuk pengembangan budidaya rumput laut,” katanya menjelaskan.
Alex mengatakan pola industri berbasis ekonomi kerakyatan tentunya tak hanya sektor kelautan namun pada setiap daerah di Maluku harus memiliki lokasi yang menjadi sentra budidaya beragam komoditas.
Ia menambahkan dengan hilirisasi industri maka Maluku tidak lagi mengirim bahan mentah keluar daerah atau keluar negeri, sehingga nilai setiap komoditas akan lebih tinggi dan tentunya meningkatkan perekonomian para pelaku industri hingga masyarakat kecil.
Saat ini Provinsi Maluku berada pada urutan keempat provinsi termiskin di Indonesia dengan memiliki persentase tingkat kemiskinan sebesar 18,45 persen dari total penduduk di Maluku.









