Api dalam Darah Anak Cucumu

oleh -1 Dilihat

Data terbaru 2025–2026 menunjukkan bahwa setelah kejatuhan Assad, Suriah di bawah pemerintahan baru justru membekukan hubungan dengan Iran, namun Israel tetap menyerang, dan puing-puing rudal yang dicegat bahkan jatuh di desa-desa Suriah menciptakan kepanikan di kalangan warga sipil. Fakta ini membuktikan bahwa kehadiran Iran bukan akar masalah; ketiadaan Iran justru membuat Suriah telanjang di hadapan agresi.

Artinya, pasca-kejatuhan Assad, Suriah justru merasakan “kehancuran” yang lebih nyata—tanpa Iran. Menurut laporan Global Security (2025), sejak Assad tumbang, Iran kehilangan jalur suplai ke Hizbullah dan pangkalan strategisnya di Mediterania. Namun pertanyaan yang lebih penting: apakah Suriah menjadi lebih baik tanpa Iran? Israel membuka front keempat di Dataran Tinggi Golan, menghancurkan instalasi militer Suriah tanpa perlawanan berarti. Sementara itu, kelompok-kelompok ekstremis yang semula diredam oleh kehadiran Iran mulai menunjukkan gigi lagi, dan perang proksi antar faksi di Suriah berpotensi kembali memanas.

Baca Juga  Boki Asti Ely Dilantik Jadi Pj Kepala Desa Kawa, Kadis PMD SBB Tekankan Pelayanan Publik

Jolani (pemimpin Suriah baru) yang dulu mengecam Iran kini memelas kepada dunia agar menghentikan serangan Israel. Warga Suriah sendiri mulai sadar: selama ini keamanan dari invasi Israel ada karena kehadiran jenderal-jenderal Iran yang gugur mempertahankan negeri itu. Ini adalah hukum besi geopolitik: mereka yang tidak memiliki kekuatan akan menjadi mangsa. Iran memberikan kekuatan itu gratis, tanpa mencaplok tanah, tanpa mengeksploitasi minyak Suriah. Bandingkan dengan AS yang mencuri minyak Suriah, Turki yang menduduki utara Suriah, Israel yang menganeksasi Golan.

No More Posts Available.

No more pages to load.