Bengkel Sastra Maluku Jumpa SABANA di Istana

oleh -118 views
Link Banner


Catatan: Eko Saputra Poceratu

Bengkel Sastra Maluku (BSM) akhirnya berjumpa Sastra Banda Neira (Sabana) di Istana Mini, Banda. (Senin, 11/06/2019). Langit mendung hari itu, saat kami, anggota BSM melangkah masuk halaman paling belakang, Istana Mini. Di sana, Agung Pranyoto (Ketua Sabana) tengah duduk. Menikmati rokok dan sapuan angin yang datang bergantian diikuti teman-temannya yang terus berdatangan. Kami akhirnya ikut duduk melantai. Membentuk lingkaran dan saling bertatapan. Ini adalah pertemuan pertama BSM dengan Sabana dalam “Kelas Menulis Puisi” yang sudah lama kami nantikan.

Dengan sukacita, Dwi Setyawan Samad (Penyair) membuka kelas. Memperkenalkan seluruh penghuni BSM dan diikuti oleh Sabana. Selanjutnya Chalvin Papilaya (Penyair), mulai berbagi proses menulisnya. Menurutnya, seorang penyair mesti mengalami realita, mengalami proses kehidupan, di alam, sosial, budaya, adat. Terlebih apa yang ditulis penyair, adalah juga gambaran dirinya sendiri. Sedangkan dengan tegas Revelino Berry (Penyair) mengatakan bahwa Banda adalah gudang bahan sejarah. Apapun bisa ditulis oleh penyair yang tinggal di Banda. Karena itu, Banda mesti digali lebih dalam lagi.

Baca Juga  Kapolsek Sulabesi Barat Safari Ibadah di Kabau Laut

Selain itu, penguatan kapasitas, daya kritis penyair mesti dilakukan dengan tekun, menurut Eko Saputra Poceratu (Penyair). Banda memiliki konteks yang mesti diperhatikan, memerlukan kepekaan penyairnya, membutuhkan keberpihakan penyairnya kepada yang perlu dilihat, dibantu. Eko juga mengingatkan agar, sebelum karya diterbitkan, kualitasnya mesti diperhatikan. Puisi-puisi mesti beraroma Banda, memiliki kekuatan Banda di dalamnya.

Link Banner

Ketua BSM, Marthen Reasoa memiliki fokus lain saat berbagi kepada Sabana. Pemilik akun Instagram “Penyair Mesum” ini mengangkat tema ranjang dalam pembahasannya. Bahwa, puisi juga tidak mesti berpura-pura dalam tiap baitnya. Puisi harus jujur pada kenyatannya sendiri. Namun, muatannya adalah baik, bagaimana bercinta dan berpuisi adalah dua hal yang penting dalam kehidupan seorang penyair, tergantung dari sudut pandang mana orang bisa menafsir. Memiliki gelar penyair mesum bukan berarti, sikapnya mesum. Bagi Marthen, hal-hal yang tabuh justru harus disampaikan lebih dini, seperti misalnya seks untuk remaja. Jadi, puisi memberikan edukasi pula dalam memerankan fungsinya.

Baca Juga  Lima Puisi Sion Selfanay

Berbeda dengan penyair lainnya, Remzky Nikijuluw menampilkan Zenewen Zine, salah satu majalah alternatif yang baru diterbitkannya. Zenewen zine mengandung banyak hal, kritik, seni, politik dll. Berbagai diskriminasi yang selama ini kita temui, dihadirkan pula dalam zine ini, semisal diskriminasi terhadap jari. Hal ini nampak jelas pada salam zenewen (untuk mengetahuinya, kalian harus baca zine ini).

Berbagai respon dan pertanyaan muncul dari kawan-kawan Sabana. Percakapan mengalir tenang, sekali-kali berombak seperti laut Banda. Sambil Setyawan Samad menegaskan beberapa hal terkait dengan pengembangan sastra Banda. Penulis buku puisi “Banda Neira Dalam Perahu” ini berharap bahwa Sabana akan semakin berkembang dan menerbitkan karya-karya orisinil dari tanahnya sendiri.

Sebelum kelas berakhir, Agung dan kawan-kawan menyampaikan beberapa pesan manis untuk dikenang dan juga beberapa tanggung jawab untuk dilunasi. Istana sudah gelap. Malam telah tiba dan suara anak-anak yang tadinya bergemuruh dalam kegiatan Pane 90-an (permainan tradisional) telah lenyap. Kami saling berjabat tangan lalu menuju pantai untuk menikmati kopi dan merdunya hujan.

Baca Juga  Soal Penolakan Dana Bantuan Pendidikan, ini Kata Kabag Humas Pemkab Pulau Morotai

Pertemuan mesti dilakukan. Sastra harus digerakkan. Penyair harus bergerilya. Banda harus melahirkan penyair-penyair api, seperti gunungnya. Semoga tetap api, Sabana!.