BMKG Sosial Hari Ini: “Beulanda Itam” dan Populisme Sentimental

oleh -203 views
Guru Besar Sosiologi Universitas Syiah Kuala (USK), Prof Dr Ahmad Humam Hamid

Oleh: Ahmad Humam Hamid, Kolumnis

Politik mempunyai selera humor yang agak aneh. Ia rajin berganti wajah, tetapi malas berganti watak. Karena itu, setiap kali terdengar kalimat, “Sekarang zamannya sudah berubah,” selalu muncul satu pertanyaan kecil: yang berubah zamannya, atau hanya pemainnya?

Belakangan ini istilah “Londo Ireng” kembali ramai setelah diucapkan Presiden Prabowo. Seperti biasa, ruang publik segera sibuk menebak kepada siapa istilah itu diarahkan. Ada yang tersinggung. Ada yang membela. Ada pula yang merasa dirinya sedang dimaksud.

Perdebatan itu justru membawa ingatan kembali ke Aceh.

Jauh sebelum istilah itu kembali beredar di panggung politik nasional, orang Aceh telah lama mengenal sebuah ungkapan yang hampir mempunyai siluet makna yang sama: “Beulanda Itam”.

Baca Juga  Galian C Wai Riuwapa Diduga Berlangsung Tiga Tahun, Kades Kairatu Akui Tak Ada Surat Resmi

Jangan dipahami secara harfiah. Orang Aceh tidak sedang berbicara tentang warna kulit. Mereka sedang berbicara tentang watak kekuasaan.

Ungkapan itu lahir dari pengalaman sejarah yang panjang. Ia menyimpan satu kecurigaan yang sederhana: penindasan tidak selalu datang dari orang asing. Kadang-kadang ia justru datang dari orang sendiri yang mewarisi cara berpikir, cara memerintah, bahkan cara menikmati kekuasaan sebagaimana dahulu dilakukan penjajah. Wajahnya berubah. Bahasanya berubah. Yang sering tidak berubah hanyalah tabiat kekuasaannya.

No More Posts Available.

No more pages to load.