Oleh: Ady Amar, Kolumnis
Mengapa bangsa ini selalu jatuh cinta kepada orang yang tampak sederhana, dekat dengan rakyat, berbicara dengan bahasa rakyat, lalu berharap semua persoalan bangsa akan selesai oleh satu orang?
Pertanyaan itu kembali mengemuka setiap kali muncul seorang tokoh yang dengan cepat merebut perhatian publik. Dalam waktu singkat, wajahnya memenuhi layar telepon genggam, ucapannya menjadi bahan perbincangan, kegiatannya tersebar di berbagai media sosial, dan namanya mulai disebut-sebut sebagai calon pemimpin masa depan. Fenomena seperti ini bukan lagi sesuatu yang asing dalam demokrasi Indonesia.
Di zaman media sosial, seorang tokoh tidak lagi cukup hanya bekerja. Ia juga harus terlihat bekerja. Kamera mengikuti langkahnya, telepon genggam merekam setiap kegiatannya, lalu algoritma menyebarkan potongan-potongan peristiwa itu kepada jutaan orang. Lambat laun, yang melekat dalam ingatan publik bukan lagi kebijakan yang dihasilkan, melainkan citra yang dibangun. Persepsi sering kali datang lebih cepat daripada kenyataan.
Tentu tidak ada yang keliru dengan seorang pemimpin yang pandai berkomunikasi. Kedekatan dengan rakyat adalah salah satu kualitas yang patut dihargai. Persoalannya muncul ketika komunikasi lebih dipentingkan daripada kebijakan, ketika penampilan lebih menentukan daripada kemampuan, dan ketika kesan lebih dipercaya daripada rekam jejak. Pada titik itulah demokrasi mulai bergeser: dari adu gagasan menjadi adu pesona.









