BMKG Sosial Hari Ini: “Beulanda Itam” dan Populisme Sentimental

oleh -8 Dilihat
Guru Besar Sosiologi Universitas Syiah Kuala (USK), Prof Dr Ahmad Humam Hamid

Yang lebih berbahaya adalah ketika cara berpikir penjajahan diam-diam tumbuh di dalam rumah kita sendiri.

Sejarah memang gemar berganti kostum. Dulu ia datang memakai seragam kolonial. Hari ini ia dapat hadir dengan pakaian yang jauh lebih akrab. Yang perlu diawasi bukanlah busananya, melainkan watak kekuasaan yang bersembunyi di baliknya.

Barangkali itulah makna terdalam “Beulanda Itam” . Ia bukan menunjuk siapa orangnya. Ia menunjuk cara berpikirnya. Dan cara berpikir itu dapat hidup pada siapa saja, bahkan pada mereka yang datang atas nama rakyat.

Nama gejala ini tentu masih dapat diperdebatkan. Namun substansinya tampak semakin jelas. Hubungan emosional antara pemimpin dan rakyat perlahan menggantikan hubungan konstitusional antara warga negara dan lembaga-lembaga demokrasi. Politik afeksi mulai menggeser politik akuntabilitas.

Sejarah mengajarkan satu pelajaran yang sederhana.

Baca Juga  Hampir 2 Tahun Pabrik Sagu Beroperasi di Kairatu, Legalitas Izin dan PAD Desa Dipertanyakan

Kekuasaan tidak selalu meminta rakyat takut kepadanya.

Kadang-kadang ia justru menjadi paling sulit diawasi ketika terlalu berhasil dicintai.

Barangkali itulah pesan yang diam-diam disimpan oleh ungkapan tua dari Aceh itu: jangan pernah mengawasi kekuasaan berdasarkan wajahnya, tetapi berdasarkan wataknya. (**)

No More Posts Available.

No more pages to load.