Buka LK2 HMI di Purwakarta, Umar Lessy: HMI Lahir untuk Melahirkan Pemimpin

oleh
Ketua DPD I Partai Golkar Maluku, Umar Lessy, menegaskan bahwa Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) tidak pernah dilahirkan sekadar untuk mencetak sarjana, melainkan untuk melahirkan pemimpin umat dan bangsa.

Porostimur.com, Purwakarta – Ketua DPD I Partai Golkar Maluku, Umar Lessy, menegaskan bahwa Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) tidak pernah dilahirkan sekadar untuk mencetak sarjana, melainkan untuk melahirkan pemimpin umat dan bangsa.

Hal itu disampaikan Umar saat menghadiri pembukaan Latihan Kader II (LK2) HMI Cabang Purwakarta, Senin (8/6/2026). Dalam kesempatan tersebut, ia hadir mewakili Ketua Umum Partai Golkar sekaligus Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia.

“HMI tidak dibangun untuk memenuhi statistik kelulusan atau sekadar ruang administratif kampus. HMI lahir untuk sesuatu yang jauh lebih besar: melahirkan pemimpin umat dan bangsa,” tegas Umar.

HMI, Sejarah dan Misi Kebangsaan

Umar mengingatkan kembali sejarah lahirnya HMI oleh Lafran Pane pada 5 Februari 1947, di tengah situasi Indonesia yang masih berjuang mempertahankan kemerdekaan.

Menurutnya, sejak awal HMI memikul dua misi besar yang tetap relevan hingga hari ini, yakni mempertahankan Republik Indonesia serta mempertinggi derajat rakyat dan menegakkan ajaran Islam.

“HMI tidak pernah memisahkan keislaman dan keindonesiaan. Keduanya adalah satu tarikan napas yang sama,” ujarnya.

Ia menegaskan, kader HMI tidak boleh menjadi penonton sejarah, melainkan harus tampil di garis depan sebagai pelaku dan penentu arah bangsa.

Energi dan Kedaulatan: Tantangan Zaman

Dalam pidatonya, Umar juga menyoroti isu strategis nasional, khususnya terkait kedaulatan energi dan pengelolaan sumber daya alam.

Ia menyebut Indonesia sebagai negara kaya sumber daya, mulai dari nikel, batu bara, gas, hingga energi terbarukan. Namun, menurutnya, kekayaan tersebut belum sepenuhnya dikelola secara berdaulat untuk kepentingan rakyat.

“Pertanyaannya sederhana, mengapa bangsa yang begitu kaya belum sepenuhnya berdaulat atas kekayaannya sendiri?” katanya.

Umar menegaskan bahwa amanat Pasal 33 UUD 1945 harus menjadi pijakan utama dalam mengelola ekonomi nasional, di mana sumber daya alam harus dikuasai negara dan dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat.

Ia juga mengutip pemikiran Mohammad Hatta tentang ekonomi berbasis asas kekeluargaan sebagai fondasi pembangunan nasional.

Reformasi ESDM dan Kemandirian Energi

Mewakili Menteri ESDM, Umar memaparkan agenda besar pemerintah dalam reformasi sektor energi dan sumber daya mineral.

Beberapa fokus utama yang disampaikan antara lain hilirisasi sumber daya alam, pembangunan kemandirian energi nasional, serta perbaikan tata kelola sektor ESDM.

“Hilirisasi bukan sekadar strategi ekonomi, tetapi strategi kedaulatan. Nilai tambah harus diciptakan di dalam negeri,” tegasnya.

Selain itu, pemerintah juga mendorong legalisasi dan pembinaan sumur minyak rakyat sebagai bagian dari upaya menghadirkan keadilan energi bagi masyarakat kecil.

“Negara tidak boleh hanya melarang. Negara harus hadir, memberi kepastian hukum, pembinaan, dan perlindungan,” ujarnya.

Peran Strategis Kader HMI

Umar menekankan bahwa kader HMI memiliki tanggung jawab besar dalam menjawab tantangan zaman, terutama menuju Indonesia Emas 2045.

Ia menyebut, kader HMI harus tampil sebagai penjaga integritas, penggerak kemandirian, penghubung antara umat dan negara, serta pemimpin transformasi di berbagai sektor strategis.

“Indonesia tidak kekurangan orang pintar. Yang kita butuhkan adalah orang yang berintegritas,” katanya.

Menurutnya, masa depan Indonesia tidak ditentukan oleh masa lalu, melainkan oleh kualitas generasi muda hari ini.

Menuju Indonesia Emas 2045

Menutup sambutannya, Umar mengajak seluruh kader HMI untuk mengambil peran dalam menentukan arah masa depan bangsa.

Ia menegaskan bahwa perjuangan generasi saat ini bukan lagi mempertahankan kemerdekaan politik, tetapi mewujudkan kemerdekaan ekonomi dan energi.

“Jika generasi pendiri memperjuangkan kemerdekaan politik, maka tugas kita hari ini adalah memperjuangkan kemerdekaan ekonomi dan energi,” pungkasnya.

Ia menegaskan, cita-cita besar konstitusi hanya akan terwujud jika kekayaan Indonesia benar-benar dikelola oleh bangsa sendiri untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.

(red)

Porostimur.com berkomitmen memberikan fakta jernih, terpercaya, dan berimbang. Simak berita dan artikel terbaru kami di: WhatsApp Channel porostimur.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *