Jika rangkaian dugaan, manuver, dan aksi saling buka kartu ini terus bereskalasi, maka muncul sebuah pertanyaan yang tidak hanya retoris, tetapi juga menyakitkan: kepada siapa sesungguhnya rakyat harus menitipkan kepercayaan?
Sebab yang sedang tersaji di hadapan publik bukan lagi sekadar proses penegakan hukum. Yang tampak justru menyerupai pertarungan kekuasaan di dalam rumah besar yang bernama negara. Dinding-dinding institusi yang seharusnya kokoh menjaga hukum kini terdengar berderak dari dalam. Mereka yang berdiri di panggung sebagai pemburu kejahatan, pada saat yang sama dituduh memiliki hubungan dengan kejahatan yang diburunya. Garis pemisah antara pemburu dan buruan menjadi kabur. Antara penegak hukum dan pelanggar hukum seolah dipisahkan oleh tirai tipis yang setiap saat bisa tersingkap.
Inilah ironi paling pahit dalam kehidupan bernegara. Hukum yang semestinya menjadi mercusuar justru terancam berubah menjadi arena pertarungan antarkepentingan. Institusi yang dibangun untuk melindungi publik dari kekuasaan yang menyimpang malah dipersepsikan sedang saling mengawasi, saling mencurigai, bahkan saling menyerang. Ketika energi aparat habis untuk bertarung satu sama lain, siapa yang tersisa untuk menjaga kepentingan rakyat?









