Oleh: Tarmidzi Yusuf, Kolumnis
Rakyat kembali dapat tontonan. Perseteruan Polri dan Kejaksaan Agung. Konon dua institusi ini “gudang” uang. Ingat Ferdy Sambo. Akankah Febrie Adriansyah di-“Ferdy Sambo”-kan? Kita tunggu!
Polri memang sedang babak belur. Pasca dinyatakan cacat formil penggeledahan, penangkapan dan penahanan terhadap Roy Suryo dan Dokter Tifa oleh Pengadilan Negeri Jakarta Selatan.
Polri bangkit. Pasca “dipermalukan” oleh Roy Suryo. Kasus Asabri, Jiwasraya, Timah, Batu Bara dan skandal mega korupsi lainnya menjadi “senjata”. Lawannya berat: Jampidsus Kejaksaan Agung.
Entah apa kepentingan dua institusi ini, Polri dan Kejaksaan Agung. Kita cuma bisa menduga. Bela negara atau bela mafia. Atau berebut “kebun” basah. Rumit. Tidak mudah menyimpulkan. Karena seperti benang kusut.
Rabu, 8 Juli 2026 rakyat dibikin geger. Dugaan perang antara Polisi dan Jaksa kembali memanas. Setelah sempat redup. Mungkin saat redup ada operasi intelijen. Intip kelemahan Jampidsus, Febrie Adriansyah.
Kini, antara Polri dan Kejaksaan Agung bukan lagi perang dingin. Diduga terjadi perang terbuka. Saling menjatuhkan. Seharusnya kedua institusi ini bersatu; melawan korupsi.
Kenyataannya mereka “bertikai”. Dua institusi tegang; Polisi dan Jaksa. Polisi bersenjata laras panjang. Sementara Jaksa dijaga pasukan TNI dengan senjata serupa. Rakyat prihatin. Siapa yang mereka bela: negara atau mafia?









