Cocoklogi Ibam

oleh -132 views
Oleh: Ahmadie Thaha, Kolumnis

Pernyataan Nadiem Makarim yang menyebut “Ibam is one of us” bukan sekadar pembelaan personal. Itu alarm. Alarm bahwa yang sedang diuji bukan hanya satu orang, tetapi seluruh ekosistem profesional yang ingin mengabdi.

Generasi ini mulai berhitung ulang. Apakah pulang ke negeri sendiri adalah pilihan mulia, atau justru keputusan paling mahal dalam hidup — secara finansial, bahkan secara kebebasan?

Karena mari kita jujur. Jika seseorang bisa hidup nyaman di luar negeri, dengan sistem hukum yang relatif pasti, lalu ia diminta pulang untuk berkontribusi, pertanyaan berikutnya sederhana: seberapa aman niat baik itu?

Jika ia tetap pulang, mungkin karena idealisme. Atau, mungkin juga karena belum membaca berita.

Dan negara, sayangnya, tidak bisa dibangun hanya oleh orang-orang yang belum membaca berita.

Baca Juga  Gubernur Maluku Resmikan Gereja Bukit Petra GPM Lateri

Di ujungnya, kita berhadapan dengan ironi yang pahit. Undang-undang boleh diperbarui, pasal boleh diperhalus, tetapi jika cara berpikir penegak hukum masih tertinggal, maka hukum akan tetap terasa seperti mesin tua — berisik, panas, dan kadang salah arah.

Kasus ini mengajarkan satu hal penting: reformasi hukum bukan sekadar mengganti teks, tetapi memperbarui cara memahami realitas. Dunia berubah cepat. Jika hukum tidak ikut belajar, maka ia akan terus tertinggal — dan dalam ketertinggalannya, ia bisa melukai mereka yang justru ingin memajukan.

No More Posts Available.

No more pages to load.