Oleh: Lukas Luwarso, Jurnalis Senior, Kolumnis
Bayangan tentang Perang Dunia Ketiga (PD III) selalu menghantui imajinasi publik. Terutama di tengah eskalasi konflik geopolitik seperti perang Iran vs Amerika-Israel atau Rusia vs Ukrania saat ini. Sabtu lalu beredar kabar, Donald Trump berniat menuklir Iran, namun bisa dicegah para jenderal di sekelilingnya. Secara psiko-politik, PD III atau perang nuklir kecil kemungkinan akan terjadi. Ada tiga argumen mengapa tidak akan terjadi:
Pertama, Psikologis. Psiko-personal para pemimpin dunia, betapapun kontroversialnya, bukanlah patriotik. Figur seperti Donald Trump, Benjamin Netanyahu, Vladimir Putin, dan Xi Jinping adalah elite global yang hidup dalam kenyamanan dan kemewahan. Mereka para hedonis penikmat kekuasaan. Sangat irasional menganggap mereka secara sadar ingin menyeret dunia ke dalam perang total yang akan berujung pada kehancuran mereka sendiri. Mereka menikmati kekuasaan, menyukai kehidupan duniawi, kekuasaan adalah alat untuk menikmati segala previlese. Perang dunia era nuklir adalah kehancuran total. Mereka ngeri harus menjalani sisa hidupnya dalam bunker yang claustrophobic akibat radiasi nuklir.
Mereka tidak akan mau mengakhiri hidupnya menyaksikan skenario perang Mutual Assured Destruction (MAD). Dalam PD III tidak akan ada pemenang, selain puing keruntuhan dan kehancuran. Publik memproyeksikan citra “gila kuasa” pada para pemimpin tersebut. Namun sejarah menunjukkan, bahkan diktator paling brutal pun memiliki insting bertahan hidup yang kuat. Mereka bahkan ingin hidup “abadi”. Ini selaras dengan konsep filosofis metafisik “The Will to Live” (kehendak untuk hidup) Arthur Schopenhauer. Realitas metafisik manusia adalah dorongan untuk bertahan hidup. Hasrat untuk terus hidup adalah penggerak irasional di balik eksistensi.









