Yose juga menyebut masih banyak permasalahan yang bisa diperbaiki dalam melindungi warga sipil di konflik Papua. Salah satunya, CSIS menemukan warga sipil memandang militer, polisi, dan separatis sebagai bagian dari konflik yang terjadi.
“Sebagai implikasi ini berikan trauma bagi banyak orang asli Papua, baik secara pribadi dan kolektif. Hal ini tentunya menghalangi, memberikan beban untuk penyelesaian komprehensif,” tegas Yose.
Sementara itu, Peneliti Senior Politik dan Perubahan Sosial CSIS Vidhyandika Djati Perkasa merinci eskalasi konflik Papua yang ditemukannya pada 2015 di angka 11. Jumlah ini trennya meningkat hingga mencapai puncak pada 2021 (139 konflik). Lalu eskalasinya menurun sampai 2022 (105).
Sedangkan data kematian akibat konflik di Papua pada 2015 di angkat 16. Jumlahnya berfluktuatif setiap tahun, dan mencapai angka tertinggi pada 2022 (228 kematian).
“Keluhan di Papua itu betapa nyawa nggak berharga gampang orang meninggal dan dilupakan begitu saja,” ujar Vidhyandika.
Vidhyandika menjelaskan penelitian ini menggabungkan metode kualitatif dan kuantitatif. Penelitian ini turut menyertakan wawancara mendalam dengan tokoh Papua, aparat keamanan, Kompolnas. Penelitian ini, lanjutnya, merupakan bentuk pemotretan awal terhadap fenomena yang terjadi.




