Melalui riset tersebut, para peneliti mengolah ela sagu menjadi bubuk halus yang kaya serat selulosa alami. Serat ini memiliki kemampuan menyerap air dan membentuk struktur jaringan di dalam lumpur pemboran sehingga mampu meningkatkan karakteristik fluida tanpa bergantung pada bahan kimia sintetis.
Saat diuji di laboratorium menggunakan peralatan pengujian reologi, formulasi berbasis ela sagu menunjukkan performa yang sangat menjanjikan.
Hasil penelitian memperlihatkan bahwa material tersebut mampu menekan kehilangan fluida (fluid loss) hingga hanya sekitar 17 mililiter, sekaligus membentuk lapisan pelindung (mud cake) setebal sekitar 1,1 milimeter pada dinding sumur.
Karakteristik tersebut menjadi salah satu indikator penting dalam industri pemboran karena mampu mengurangi risiko kebocoran fluida, menjaga stabilitas sumur, serta meminimalkan potensi terjepitnya pipa pemboran (pipe sticking).
Selain meningkatkan performa teknis, pemanfaatan ela sagu juga dinilai lebih ramah lingkungan karena berasal dari biomassa alami yang mudah terurai.
Membuka Peluang Ekonomi Baru bagi Maluku
Riset ini tidak hanya menawarkan solusi teknologi, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat Maluku.
Apabila dikembangkan hingga skala industri, pemanfaatan ela sagu berpotensi mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap bahan aditif impor untuk industri migas sekaligus menciptakan rantai nilai baru bagi komoditas sagu.









