Porostimur.com, Jakarta – Sastrawan Maluku, Eko Saputra Poceratu, melontarkan kritik tajam terhadap relasi pemerintah pusat dan daerah, eksploitasi sumber daya alam, serta berbagai persoalan korupsi, konflik, dan kekerasan di Indonesia. Dalam paparannya di Jakarta International Literary Festival (JILF) 2026, Eko menyebut Maluku masih diperlakukan seperti anak tiri republik, meskipun masyarakatnya memiliki sejarah panjang perjuangan dan kesetiaan terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Eko menyampaikan gagasan tersebut secara daring melalui Zoom setelah terkendala keberangkatan ke Jakarta akibat gangguan penerbangan yang disebut berkaitan dengan bencana asap. Ia tampil sebagai panelis dalam sesi diskusi bertajuk Puitika Perasaan yang Tersisa bersama Shanaz Soehartono dari Jakarta dan Marlyn Tan dari Singapura, dengan Zen Hae sebagai moderator, di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Jumat (23/10/2026).
Dalam forum yang mengusung tema Living Space itu, Eko membawakan materi berjudul Ruang Hidup dalam Memori Kolektif Orang Maluku. Ia mencoba membaca ruang hidup dari pengalaman historis, ingatan kolektif, serta suara batin masyarakat Maluku.
“Saya mencoba melihat ruang hidup itu dari biji mata Maluku: mata hati, mata batin, mata nurani, dan tentu saja, kenangan dan imajinasi,” kata Eko.









