Empat Puisi Nuriman Bayan

oleh -21 views
Link Banner

SEPERTI PURNAMA

Seperti purnama, ada yang mesti diberi nama. Cinta, misalnya. Rindu, misalnya.

Atau kita yang percaya, kesedihan adalah malam yang dihapus fajar.

Meski kita juga percaya matahari tak selembut tangan ibu yang tak berjeda mengelus nasib kita yang yatim, nasib kita yang piatu.

Seperti purnama, cinta dan rindu kita harus diberi nama, dan waktu telah memberinya.

Kita hanya menjaga dan merawat dengan sungguh, dengan Rahman dan Rahim-Nya.

Weda, 2021

======

SEPERTI OMBAK JATUH KE TEPIAN

Kau bilang malam ini aku harus di rumah

keinginanku kepada laut luluh seperti ombak jatuh ke tepian

tanpa buih, tanpa bunyi, selain sunyi yang melebur dengan sepi.

Baca Juga  Indonesia Diambang Bangkrut Seperti Yunani, Jokowi Diminta Belajar dari SBY Soal Penanganan Utang

Kau bilang malam ini aku harus di rumah

dan aku tahu, rindu sedang menyiksamu
sama seperti padaku.

Weda, 2021

========

BADAI MALAM ITU

Badai malam itu adalah rindu yang dulu membadai saat engkau di Weda dan aku di Loloda. Ia tak bertahan lama. Cinta adalah hujan yang pelan-pelan meluluhkannya.

Aku tahu malam itu dadamu lebih berombak dari lautan yang memelukku. Lautan tempat aku meleburkan segala lelah seperti di dadamu.

Lautan yang bergelombang malam itu, adalah telaga, tempat aku terjaga, tempat menghapus segala dahaga. Maka kelak bila aku pergi lagi, jangan lagi engkau cemas. Sebab sampai kapan-pun aku tetap ombak, dan engkaulah pantaiku.

Baca Juga  Profil Mayjen TNI Agus Rohman, Panglima Maluku Dari Bandung Selatan

Weda, 2021

=========

DAN LAUT

Dan laut telah menjelma engkau yang selalu kurindu. Satu hari tanpa mengapung, bagai satu hari tanpa engkau di sisi.

Aku mencintai laut dan engkau. Engkau adalah birunya, engkau adalah buihnya. Engkau adalah segala yang memberi hidup.

Dan laut telah menjelma engkau, ke mana pun aku pergi, mata dan dadaku selalu biru.

Weda, 2021

======

No More Posts Available.

No more pages to load.