Porostimur.com, Ternate – Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,6 yang mengguncang Bitung, Sulawesi Utara dan Ternate, Provinsi Maluku Utara, meninggalkan dampak kerusakan luas dan memaksa ribuan warga mengungsi. Ratusan bangunan dilaporkan rusak, mulai dari rumah warga hingga fasilitas umum dan rumah ibadah.
Pemerintah Kota Ternate bahkan telah menetapkan status tanggap darurat selama 14 hari sejak Kamis (2/4/2026) guna mempercepat penanganan bencana.
Ketua Posko Tanggap Darurat Penanganan Bencana Gempa, Rizal Marsaoly, mengungkapkan bahwa kerusakan parah terjadi di enam kelurahan.
“Kerusakan meliputi rumah hunian, fasilitas kantor, sekolah, dan rumah ibadah gereja. Ada 233 bangunan yang rusak, terdiri dari delapan gereja, 223 rumah warga, satu kantor, dan satu sekolah,” ujar Rizal kepada wartawan, Minggu (5/4/2026).
Ratusan Rumah Rusak, Fasilitas Umum Terdampak
Dari total 233 bangunan yang terdampak, sebanyak 104 rumah mengalami kerusakan berat, 58 rumah rusak sedang, dan 61 lainnya rusak ringan. Selain itu, satu gedung kantor dan satu sekolah di Kelurahan Mayau turut mengalami kerusakan.
Data sementara juga mencatat sekitar 23 rumah warga di wilayah Kota Ternate mengalami kerusakan ringan hingga sedang.
Kondisi ini membuat aktivitas masyarakat lumpuh, terutama di wilayah terdampak paling parah seperti Kelurahan Mayau yang menjadi salah satu titik kerusakan signifikan.
Ribuan Warga Mengungsi dan Trauma
Hingga hari keempat pascagempa, jumlah pengungsi tercatat mencapai 1.966 jiwa dari 568 kepala keluarga yang tersebar di 29 titik pengungsian.
Sebagian besar pengungsi masih bertahan di tenda darurat dengan kondisi psikologis yang belum stabil akibat gempa susulan yang masih terjadi.
“Di Mayau, kami menemukan sekitar 700 pengungsi, dan hari berikutnya jumlahnya bertambah menjadi lebih dari 1.000 pengungsi,” kata Rizal.
Distribusi Bantuan Dikebut
Pemerintah Kota Ternate bergerak cepat dengan mendistribusikan bantuan logistik, mulai dari tenda pengungsian, makanan siap saji, hingga kebutuhan bayi dan anak.
Penyaluran bantuan dilakukan melalui jalur laut menggunakan kapal milik Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan dari Pelabuhan Ahmad Yani Ternate menuju wilayah terdampak seperti Pulau Tifure dan Pulau Mayau.
Pemerintah menegaskan bahwa percepatan distribusi bantuan menjadi prioritas utama agar kebutuhan dasar para korban terpenuhi dan proses pemulihan dapat segera berjalan. (red/beritasatu)
Porostimur.com berkomitmen memberikan fakta jernih, terpercaya, dan berimbang. Simak berita dan artikel terbaru kami di: WhatsApp Channel porostimur.com



