Oleh: Dr. Said Assagaf, M.M, Pengajar Pascasarjana UMMU Ternate
Di tengah dinamika sosial dan keberagaman masyarakat Maluku Utara, nama Abuya Dr. (HC) Habib Abubakar bin Hasan Alatas Azzabidi bukanlah sosok asing. Sebagai Mufti Besar Kesultanan Moloku Kieraha, beliau telah lama menjadi figur sentral dalam lanskap keagamaan dan kemanusiaan di Kota Ternate dan sekitarnya.
Namun, yang membuatnya menonjol bukan semata jabatan atau gelar, melainkan corak dakwah yang ia bangun: dakwah yang berakar pada kemanusiaan.
Dakwah yang Merangkul, Bukan Menghakimi
Abuya dikenal dengan sikap tawadhu, sederhana, dan rendah hati. Ia tidak membangun jarak dengan umat, tidak menciptakan sekat antara ulama dan masyarakat akar rumput. Justru sebaliknya, ia memilih menyatu, berbaur, dan merangkul semua kalangan.
Pendekatan ini bukan sekadar gaya personal, tetapi strategi dakwah yang sadar dan terencana: menjauhkan diri dari elitisme dan eksklusivisme, sekaligus meneguhkan inklusivisme. Dalam konteks masyarakat majemuk seperti Maluku Utara, pendekatan seperti ini menjadi relevan dan mendesak.
Selama puluhan tahun, kiprah dakwah Abuya dapat dipetakan dalam tiga pilar klasik: Dakwah bil Lisan, Dakwah bil Hal, dan Dakwah bil Qalam.
Melalui Dakwah bil Lisan, ia mengisi pengajian dan ceramah dengan materi tafsir, fikih, dan tasawuf. Ia juga mengabdi sebagai pengajar dan pembina di Pondok Pesantren Qotrunnada Citayam Depok—pesantren yang turut membentuk fondasi intelektual dan spiritualnya.








