Hadang Peserta Gabalil Hai Sua, Warga Kabau Palang Jembatan

oleh -27 views
Link Banner

[carousel_slide id=’12211′]

porostimur.com | Sanana: Warga dua desa di Kecamatan Sulabesi Barat, yang Desa Kabau Laut dan Desa Kabau Darat, melampiakan kekecewaannya pada Pemerintah Kabupaten Kepulauan Sula dengan memblokir jembatan yang menghubungkan kedua desa tersebut.

Akibat aksi pemblokiran jembatan sepanjang lebih kurang 200 meter yang membentang di atas Telaga Kabau itu, peserta lomba Gabalil Hai Sua tidak dapat melewatinya dan menggunakan perahu untuk menyeberangi telaga.

Dikabarkan, warga bersama Himpunan Pelajar dan Mahasiswa Sulabesi Barat (Hipma Sulbar) mencegat peserta lomba saat melintasi jembatan penghubung antara Desa Kabau Pantai dan Kabau Darat, pada Sabtu, 18 Agustus 2019.l lalu.

Link Banner

“Ini bagian dari sikap protes kami terhadap Pemda Sula yang tidak sedikit pun menghiraukan nasib warga Sulabesi Barat, terutama pada aspek infrastruktur jalan. Jalan lintas Sulabesi Barat terutama di Lida Mantua sudah menelan setidaknya 4 korban meninggal dunia,” kata Ketua Hipma-Sulbar Irwan Fokatea.

Baca Juga  Ketakutan Virus Corona Buat Isu Anti-China Menguat

“Kami sama sekali tidak melarang peserta melintasi jembatan ini. Kami hanya meminta agar membayar karcis jika ingin melintas. Sebab, jembatan ini dibuat atas keringat warga. Bukan dari pemerintah. Lagi pula kondisi jembatan sangat tidak layak untuk lentasi banyak orang,”ucap, Murid Umamit, Tokoh Masyarakat Kabau.

Dijelaskan, jembatan tersebut murni hasil keringat warga Kabau dan tidak ada satu pun sumbangsi dari Pemda Sula.

“Ini murni swadaya masyarakat, pemerindah desa serta aparat keamanan yang saat itu bertugas di Kecamatan Sula Barat. Bukan dari Pemda. Tiang beton jembatan dipungut dari warga desa Kabau Pantai dan Kabau Darat, “tegas Murid.

“Karena itu, selaku tokoh masyarakat, saya (Murid) mewakili warga Sula Barat umumnya dan warga desa Kabau sangat mendukung dengan aksi protes adik-adik mahasiswa asal Sula Barat ini,” tambah Murid.

Baca Juga  Satreskrim Pulau Ambon percepat rampungkan berkas 3 pelaku pembacokan

Lebih lanjut, Murid juga menyentil terkait pernyataan salah satu oknum yang menyatakan jembatan tersebut hasil buah tangannya saat KKLI di Desa Kabau beberapa tahun lalu.

“Selaku tokoh masyarakat, saya menolak keras klaim tak berdasar yang disampai oknum tersebut. Mereka (makasiswa) KKLI harus bersyukur karena dengan dukungan masyarakat laporan mereka bisa selesai. Buah tangah mereka pun sudah tidak ada lagi. Karena sudah rusak dan direnovasi kembali oleh warga. Jadi kami menolak keras soal itu,”tukasnya. (raka/if)