Harga Tiket Udara Turun, Tak Tutupi Inflasi Bulanan Maluku

oleh -80 views
Link Banner

@Porostimur.com | Ambon : Turunnya harga tiket angkutan udara, menjadi penyebab utama deflasi pada kelompok transportasi, komunikasi dan jasa keuangan, dalam periode bulan Oktober 2019.

Dimana, deflasi pada kelompok ini sebesar 0,11% (month to month/mtm).

Hal ini ditegaskan Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Maluku, Noviarsano Manullang, dalam acara press conference di Bank Indonesia, Selasa (5/11).

Berbeda dengan harga tiket angkutan udara maskapai Lion Air rute Ambon-Jakarta, Ambon-Makassar dan Ambon-Langgur yang mengalami penurunan, akunya, harga tiket untuk rute Ambon-Saumlaki justru cenderung meningkat.

Menurutnya, meski Lion Air menurunkan harga tiketnya, namun potensi naiknya harga tiket pada rute dimaksud tetap terbuka.

Apalagi, Maskapai Garuda Indonesia sudah tidak melayani lagi rute Ambon-Langgur dan Ambon-Saumlaki sejak Oktober 2019 kemarin.

Baca Juga  Tiba di Jailolo, Pangdam Pattimura Disambut Dengan Tradisi Joko Kaha

Meskipun kelompok transportasi, komunikasi dan jasa keuangan ini mengalami deflasi, namun tidak mengimbangi inflasi Maluku yang secara keseluruhan.

Guna mengantisipasi dan mengendalikan inflasi ini, jelasnya, Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Provinsi Maluku telah melakukan rapat koordinasi dalam rangka memastikan ketersediaan pasokan bahan pokok di Maluku, terutama pasca terjadinya gempa di Pulau Ambon dan Pulau Seram.

”Stok bahan pokok seperti beras, telur ayam ras, tepung dan minyak goreng di Kota Ambon tetap terjaga. Namun demikian, stok sayuran dan cabai masih terbatas karena mayoritas masih harus didatangkan dari luar Maluku,” ujarnya.

Menyikapi hal tersebut, jelasnya, TPID Provinsi Maluku telah mencanangkan program penanaman cabai di lingkungan kantor.

Baca Juga  Real Madrid Menang 5-0, Dua Gol Dua Menit, Tempel Ketat Barcelona

Dimana, program ini rencananya akan dilombakan antar Instansi dan dinas terkait yang bertujuan untuk mengurangi ketergantungan terhadap komoditas cabai di pasar.

Inflasi Provinsi Maluku pada tahun 2019 ini, terangnya, diperkirakan akan berada pada tingkat yang rendah dan stabil serta berada pada sasaran inflasi sebesar 3,5%±1% (yoy).

”Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Maluku senantiasa berkoordinasi dan bersinergi dengan Pemprov Maluku dan seluruh Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Maluku, TPID Maluku, TPID Kota/Kabupaten se-Maluku, Satgas Pangan dan pihak terkait lainnya untuk mengendalikan harga. Adapun pengendalian inflasi di Maluku dilakukan melalui strategi kebijakan 4K, yakni Keterjangkauan Harga, Ketersediaan Pasokan, Kelancaran Distribusi dan Komunikasi Efektif,” pungkasnya. (keket)