Homeless Media, Di Antara Influencer dan Jurnalisme: Menjaga Ruang Informasi Publik

oleh -394 views
Ansori

Ada pagar etik yang membuat informasi tidak sekadar cepat, tetapi juga dapat dipertanggungjawabkan.

Ketika pemerintah mulai mensejajarkan influencer, content creator, bahkan buzzer dengan media terstandar, maka yang bergeser bukan hanya kanal komunikasi, melainkan juga standar kebenaran itu sendiri.

Di ruang digital, informasi tidak lagi selalu diuji oleh redaksi, tetapi oleh algoritma. Dan algoritma tidak bekerja berdasarkan benar atau salah. Ia bekerja berdasarkan perhatian. Semakin memancing emosi, kemarahan, ketakutan, atau sensasi, semakin besar peluang sebuah konten tersebar luas.

Akibatnya, informasi yang paling ramai belum tentu yang paling benar, melainkan yang paling memicu reaksi.

Di sinilah bahaya terbesar era komunikasi digital: publik perlahan berubah dari warga negara menjadi target distribusi narasi.

Baca Juga  Wawali Ambon Lepas Mahasiswa KKN IAKN, Dorong Inovasi Digital untuk Masyarakat

Ketika itu terjadi, masyarakat tidak lagi memperoleh informasi untuk berpikir, tetapi dijejali konten untuk bereaksi. Ruang publik berubah menjadi arena kebisingan tanpa kedalaman. Orang lebih sibuk membela kubu dibanding memeriksa fakta.

Maka kegelisahan media mainstream sesungguhnya bukan sekadar soal kehilangan panggung atau iklan. Ada kekhawatiran yang lebih mendasar: jika standar jurnalistik runtuh, maka ruang publik akan dipenuhi “homeless media” — media tanpa rumah etik, tanpa pagar verifikasi, tanpa tanggung jawab institusional.

No More Posts Available.

No more pages to load.