Penilaian kebersihan kota, misalnya, kerap berfokus pada wajah kawasan protokol dan estetika visual jelang penilaian. Kota-kota yang menerima penghargaan lingkungan masih bergulat dengan persoalan mendasar seperti krisis tempat pembuangan akhir, tata kelola sampah rumah tangga, dan degradasi lingkungan di wilayah pinggiran. Penghargaan pun lebih menyerupai kosmetika kebijakan daripada refleksi ekologi yang berkelanjutan.
Hal serupa terjadi pada berbagai penghargaan inovasi daerah. Inovasi direduksi menjadi aplikasi digital, perubahan nama layanan, atau pelaporan berbasis dashboard. Banyak inovasi lahir hanya untuk memenuhi siklus lomba, tidak berumur panjang, dan tidak benar-benar menyentuh problem struktural masyarakat. Inovasi berhenti sebagai proposal, bukan transformasi.
Jebakan Label Normatif
Sejumlah penghargaan lain bahkan jatuh pada jebakan label normatif. Predikat daerah layak anak, misalnya, sering diberikan berdasarkan kelengkapan regulasi dan dokumen pendukung. Namun di balik sertifikat tersebut, kekerasan terhadap anak, perkawinan usia dini, dan minimnya ruang aman masih menjadi persoalan serius di banyak daerah.
Demikian pula dengan penghargaan penurunan stunting. Angka boleh saja turun di atas kertas, tetapi akar persoalan seperti kemiskinan struktural, sanitasi buruk, dan ketahanan pangan keluarga sering tak tersentuh. Stunting diperlakukan sebagai target statistik, bukan krisis kualitas generasi.









