Isu IMF dan Gelombang Aksi Mahasiswa Picu Perdebatan, ‘Menuju Indonesia Bangkrut’, Dejavu 1998?

oleh -18 Dilihat
Penolakan pinjaman dari International Monetary Fund oleh pemerintah, diiringi gelombang demonstrasi mahasiswa di berbagai daerah, kembali memunculkan perdebatan tentang kemandirian ekonomi, kesejahteraan rakyat, dan arah kebijakan nasional.

Ketua BEM FH UI, Dimas Rumi Chattaristo, menyebut aksi tersebut sebagai bentuk peringatan kepada pemerintah.

“Aksi ini baru permulaan. Kami akan terus bersuara hingga pemerintah mengakui kesalahan dan memastikan kesejahteraan benar-benar dirasakan rakyat,” ujarnya.

Ketua BEM UI, Yatalathof Ma’shum Imawan, menilai pertumbuhan ekonomi belum sepenuhnya dirasakan masyarakat.

“Harga kebutuhan pokok naik, lapangan kerja terbatas, sementara beban pajak semakin berat,” katanya.

Gelombang aksi kemudian meluas ke sejumlah kota seperti Jakarta, Yogyakarta, Bandung, Surabaya, Makassar, hingga Medan.

Pemerintah Jaga Stabilitas dan Kepercayaan

Menanggapi situasi tersebut, pemerintah menegaskan komitmennya menjaga stabilitas ekonomi dan kepercayaan publik.

Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi mengatakan pemerintah terus memperkuat koordinasi lintas sektor di tengah ketidakpastian global.

“Kami terus memperkuat koordinasi agar kebijakan yang diambil mampu menjaga stabilitas ekonomi, memperkuat rupiah, serta meningkatkan kepercayaan publik,” ujarnya.

Baca Juga  Menperin Sarmuji Siapkan Ekosistem Industri Rumput Laut, Hilirisasi Jadi Kunci

Selain itu, pemerintah menyoroti keberhasilan penerbitan obligasi global oleh Badan Pengelola Investasi Danantara serta mendorong deregulasi, investasi, dan hilirisasi sebagai strategi utama pembangunan di era Presiden Prabowo Subianto.

No More Posts Available.

No more pages to load.