Bagi pekerja gig, kenaikan harga BBM bukan sekadar persoalan meningkatnya biaya operasional. Ia adalah pukulan berlapis yang nyaris tak terelakkan.
Pertama, biaya bahan bakar meningkat secara langsung, menggerus pendapatan harian yang sejatinya sudah fluktuatif. Kedua, tuntutan mobilitas tinggi memaksa mereka tetap menjaga performa kendaraan, yang berarti biaya perawatan juga ikut membengkak. Ketiga, skema potongan dari aplikator tidak serta-merta menyesuaikan kondisi tersebut. Dalam banyak kasus, tarif layanan tetap ditekan demi menjaga daya tarik bagi konsumen di tengah persaingan dan ketidakstabilan ekonomi.
Akibatnya, pekerja gig berada dalam posisi terjepit: biaya meningkat, sementara pendapatan tidak mengalami penyesuaian yang sepadan.
Lebih jauh, pekerja dalam ekonomi gig hidup dalam lanskap kerja yang minim perlindungan sosial dan sarat ketidakpastian. Tidak ada jaminan pendapatan tetap, tidak ada perlindungan ketenagakerjaan yang memadai, dan sangat bergantung pada dinamika permintaan pasar.
Dalam konteks ini, kenaikan harga BBM mempertebal kerentanan tersebut. Margin pendapatan yang sudah tipis berpotensi menyusut ke titik yang tidak lagi layak secara ekonomi. Jika dibiarkan, kondisi ini tidak hanya berdampak pada individu pekerja, tetapi juga pada stabilitas sektor layanan yang selama ini menjadi tulang punggung mobilitas masyarakat perkotaan.








