Selama setahun ada dua kali panen. Apabila ditotal dengan asumsi per panen satu ton, hanya terkumpul uang panen sebesar Rp6.000.000 selama satu tahun.
Penghasilan seperti itu tentu saja tak cukup untuk menghidupi keluarga dengan rata-rata memiliki tiga sampai lima anak di rumah. Dengan kondisi seperti itu, tentunya tak heran apabila rata-rata pendidikan masyarakat di sana hanyalah tamatan SMP atau SMA. Pendidikan tinggi masih jauh dari asa.
“Mungkin psikologi mereka ketika melanjutkan sampai tingkat kuliah, itu menjadi penghambat di ekonomi (keluarga) mereka” ujar Boy dikutip dari situs LPDP Kemenkeu, Jumat (5/4/2024).
Akar struktural inilah yang membuat pendidikan tidak menjadi prioritas utama untuk dikejar. Bahkan keengganan bersekolah tinggi juga dimiliki orang-orang yang notabene memiliki cukup kekayaan, seperti para pemilik kebun.
Mereka berpikir lulus sekolah belum tentu mendapat pekerjaan yang layak. Menjadi suatu keberuntungan ketika keluarga Boy punya kesadaran dengan menginginkan anak-anaknya bisa menempuh pendidikan tinggi. Dari kelima saudara, tiga orang telah tamat sarjana termasuk Boy.
Jalan Terjal Akses Pendidikan di Wilayah Kepulauan
Maluku merupakan wilayah kepulauan yang akses dari satu pulau ke pulau lainnya membutuhkan transportasi laut atau udara. Sekolah dan universitas yang bagus masih berada di pulau lainnya.







